Maiyah: Kegelisan Adalah Benih

                            


Kegelisahan bukanlah sekadar getar resah di dada. Ia adalah sesuatu dalam hidup yang sedang menuntut untuk diperiksa, dipahami, dan diselesaikan. Kalau seorang manusia berani menatap kegelisahannya sendiri lekat-lekat, ia akan menemukan definisi dari masalahnya. Dan dari definisi itulah jalan menuju solusi mulai terbuka.

Begitulah cara hidup bekerja. Dari keresahan, lahir kejernihan. Dari kejernihan, lahir tindakan. Seperti seorang musafir yang tersandung batu di jalan, lalu menyadari bahwa jalannya perlu dibersihkan — begitu pula manusia bisa memanen kebijaksanaan dari gejolak hatinya sendiri. Kegelisahan bukan musuh. Ia guru yang tidak pernah diundang, tapi selalu membawa pelajaran.

Kenapa Kita Buru-Buru Memadamkannya

Masalahnya, kita hidup di zaman yang mengajarkan kita untuk memadamkan kegelisahan secepat mungkin, bukan menyelaminya. Begitu ada rasa tidak nyaman muncul, refleks pertama kita adalah mencari pengalih — gawai, hiburan, kesibukan, apa saja yang bisa membuat sinyal itu diam sejenak. Kita memperlakukan kegelisahan seperti alarm yang mengganggu, bukan seperti pesan yang sedang dikirim dari bagian dalam diri kita sendiri.

Padahal kalau dipikir lebih jernih, kegelisahan itu punya struktur yang mirip dengan rasa sakit fisik. Rasa sakit ada bukan untuk menyiksa, tapi untuk memberi tahu tubuh bahwa ada sesuatu yang perlu diperhatikan. Kalau kita mematikan rasa sakit tanpa mencari sumbernya, bukan berarti masalahnya selesai — ia hanya bersembunyi, menunggu waktu untuk muncul kembali dalam bentuk yang lebih besar. Kegelisahan batin bekerja dengan logika yang serupa. Ia adalah sinyal, bukan gangguan.

Dari Kabut Menuju Definisi

Ada satu langkah penting yang sering terlewat: sebelum seseorang bisa menyelesaikan kegelisahannya, ia harus lebih dulu berani mendefinisikannya. Ini bukan langkah kecil. Kebanyakan kegelisahan yang kita rasakan sehari-hari sebenarnya masih berupa kabut — perasaan tidak enak yang belum punya nama, belum punya bentuk, belum punya batas yang jelas. Dan selama ia masih berupa kabut, kita tidak mungkin benar-benar menyelesaikannya, karena kita bahkan belum tahu apa yang sebenarnya sedang kita hadapi.

Mendefinisikan kegelisahan berarti berani duduk sebentar bersama rasa tidak nyaman itu, alih-alih lari darinya. Bertanya dengan jujur: apa sebenarnya yang membuat saya resah? Apakah ini soal ketakutan akan masa depan, soal hubungan yang belum selesai, soal nilai yang saya pegang tapi belum saya jalani sepenuhnya? Begitu pertanyaan itu dijawab dengan jujur, kabut mulai menipis, dan yang tadinya samar mulai punya bentuk. Dari situ, jalan keluar mulai terlihat — bukan karena masalahnya hilang, tapi karena kita akhirnya bisa melihatnya dengan jelas.

Batu di Jalan, Bukan Tembok

Perumpamaan musafir yang tersandung batu itu penting untuk dipegang. Batu bukan tembok. Tembok menghentikan langkah sepenuhnya, tapi batu hanya membuat kita berhenti sejenak, menunduk, dan melihat apa yang selama ini terinjak tanpa kita sadari. Kegelisahan sering berperan sebagai batu itu — bukan untuk menghentikan hidup kita, tapi untuk memaksa kita berhenti sebentar dan memeriksa jalan yang sedang kita lalui.

Musafir yang bijak tidak marah pada batu. Ia berterima kasih, karena batu itulah yang membuatnya sadar sebelum tersandung sesuatu yang jauh lebih besar di depan. Begitu pula kegelisahan: ia menyakitkan sesaat, tapi ia menyelamatkan kita dari kerusakan yang lebih besar, yang mungkin baru terasa kalau kita terus berjalan tanpa pernah menunduk untuk memeriksa jalan.

Guru yang Tidak Diundang

Ada semacam paradoks yang menarik di sini. Kita tidak pernah mengundang kegelisahan. Ia datang begitu saja, sering di waktu yang tidak kita pilih — tengah malam, di tengah kesibukan, saat semuanya seharusnya baik-baik saja. Tapi justru karena tidak diundang itulah, kegelisahan punya kejujuran yang jarang dimiliki oleh hal-hal yang kita rencanakan sendiri. Ia tidak peduli pada jadwal kita, tidak peduli pada citra yang ingin kita jaga. Ia hanya muncul, membawa pesan, lalu menunggu untuk didengar.

Guru sejati memang jarang datang atas permintaan. Ia datang justru ketika kita paling tidak siap, karena di situlah pelajarannya paling terasa. Kegelisahan mengajarkan hal yang sama: bukan lewat kenyamanan, tapi lewat gesekan. Dan seperti pelajaran-pelajaran yang berat, ia meninggalkan bekas — sebuah pemahaman yang tidak akan kita dapatkan seandainya semuanya berjalan mulus tanpa gangguan.

Penutup: Menatap, Bukan Menghindar

Kalau ada satu hal yang bisa dipetik dari semua ini, mungkin begini: kegelisahan bukan sesuatu yang perlu buru-buru dihilangkan, melainkan sesuatu yang perlu ditatap dengan berani. Bukan berarti kita harus menikmati rasa tidak nyaman itu, tapi kita perlu berhenti memperlakukannya sebagai musuh yang harus segera diusir.

Di balik setiap keresahan, ada definisi yang menunggu untuk ditemukan. Di balik setiap definisi, ada jalan yang menunggu untuk dilalui. Dan di ujung jalan itu, biasanya bukan kesempurnaan yang kita temukan, melainkan kejernihan — yang, pada akhirnya, jauh lebih berharga.

Komentar