Cara Membangun Rasa Percaya Diri Di Depan Atasan? Ini Cara Paling Ampuh

Dua profesional berseragam memantau data analitik pada meja layar sentuh futuristik di kantor pusat komando modern dengan pemandangan kota saat matahari terbenam.

​Pernahkah kamu merasa jantungmu berdegup kencang? Hal itu terjadi hanya karena melihat nama atasan memanggilmu. 

Ia memintamu untuk memegang proyek besar yang krusial. Kita pasti sepakat bahwa mendapatkan kepercayaan adalah sebuah kehormatan. Namun, sering kali rasa takut akan kegagalan justru jauh lebih besar. 

Rasa itu lebih besar daripada rasa bangga tersebut. Rasanya sangat melelahkan. Suara di dalam kepala terus membisikkan sesuatu. Ia bilang bahwa kita tidak cukup mampu. Apalagi saat taruhannya melibatkan tanggung jawab publik yang serius.

​Jika hari ini kamu merasa minder. Kamu merasa gemetar. Atau, kamu ingin melarikan diri dari tanggung jawab pekerjaan. 

Hal itu karena takut melakukan kesalahan fatal. Tulisan ini hadir untuk memeluk kegelisahanmu. Aku berjanji akan membantumu memahami. Rasa takut itu adalah tanda bahwa kamu peduli. 

Aku akan berbagi cara praktis untuk menaklukkan keraguan tersebut. Mari kita bedah cara mengatasi rasa tidak percaya diri di tempat kerja. Belajarlah dari pengalamanku. Saat itu, aku hampir menyerah saat harus mengelola dana negara.

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik-baik saja. Aku doakan yang terbaik, aamin. 

​Ketakutan di Balik Seragam dan Anggaran Negara

​Aku ingat betul momen itu. Saat itu, aku pertama kali diterima bekerja di sebuah perusahaan BUMN. Ada rasa bangga yang luar biasa. Namun, itu hanya bertahan sebentar. 

Rasa itu berganti menjadi kecemasan yang menghantui setiap malam. Puncaknya adalah ketika aku ditunjuk untuk sesuatu. 

Aku harus mengelola sebuah proyek strategis. Pendanaannya bersumber langsung dari dana APBN. Angka nol di belakangnya membuat kepalaku pening.

​Setiap kali aku duduk di depan berkas laporan, tanganku sering kali berkeringat dingin. Perutku mulas luar biasa. 

Aku terus berpikir. "Bagaimana kalau aku salah input? Bagaimana kalau keputusanku merugikan negara? Bagaimana kalau aku berakhir di penjara karena ketidaktahuanku?". 

Rasanya seperti memikul beban seluruh rakyat Indonesia. Aku memikulnya di pundakku sendiri. Padahal, aku merasa hanyalah "anak baru". Aku merasa masih banyak celah.

​Ketidakpercayaan diri ini membuatku ragu. Aku sering ragu untuk bersuara di ruang rapat. Meskipun, aku punya ide yang bagus. 

Aku merasa rekan-rekanku jauh lebih ahli. Mereka tampak lebih sigap. Sementara itu, aku hanya sedang "berpura-pura". Aku berpura-pura bisa melakukan semuanya. Rasa takut berbuat salah ini bukan lagi sekadar stres kerja biasa. 

Itu telah menjadi momok. Hal itu membuatku sulit tidur. Aku selalu merasa tidak layak berada di sana.

​Mengenali Gejala Imposter Syndrome dalam Lingkungan Kerja Profesional

​Apa yang kualami di kantor BUMN tersebut adalah contoh nyata. Itu adalah Imposter Syndrome atau sindrom penipu. Secara psikologis, ini adalah sebuah kondisi. 

Seseorang merasa tidak pantas mendapatkan kesuksesannya. Mereka takut suatu saat orang lain akan menyadari sesuatu. Yaitu, bahwa mereka tidak kompeten. 

Hal ini sering terjadi pada orang-orang dengan tanggung jawab besar. Sebab, standar moral dan risiko yang tinggi membuat mereka menjadi perfeksionis yang ekstrem.

​Cara mengatasi rasa tidak percaya diri di tempat kerja dimulai dengan menyadari. Ketakutanmu adalah respons alami otak terhadap situasi baru. 

Ketika taruhannya adalah dana APBN atau kepentingan publik, otak amigdala kita akan bereaksi. Ia masuk ke mode "siaga satu" untuk mencegah kesalahan. 

Masalahnya, jika dosis ketakutan ini berlebihan, ia justru akan melumpuhkan logika. Hal itu membuatmu benar-benar melakukan kesalahan karena terlalu gugup.

​Penting untuk dipahami. Tidak ada satu pun orang di kantor yang benar-benar tahu segala hal. Terutama sejak hari pertama. Para seniormu yang tampak tenang itu sebenarnya punya rahasia. 

Mereka hanya lebih terbiasa mengelola ketidakpastian daripada kamu. Menyadari bahwa "merasa tidak tahu" adalah bagian dari proses belajar. 

Itu bukan tanda ketidakmampuan. Hal ini adalah kunci utama untuk mulai menurunkan beban mental yang kamu pikul.

​Dampak Psikologis dari Takut Berbuat Salah Secara Fatal

​Ketika kamu terus-menerus merasa tidak pede, produktivitasmu justru akan menurun. Kamu menghabiskan terlalu banyak waktu untuk mengecek ulang hal-hal sepele. 

Ketakutan akan sanksi hukum atau teguran atasan menciptakan stres kronis. Hal itu dapat merusak kesehatan fisikmu. Kamu mungkin mulai mengalami sakit maag. 

Kamu mengalami migrain, atau kelelahan mental. Hal itu membuatmu ingin mengundurkan diri padahal kariermu baru saja dimulai.

​Dampak lainnya adalah hilangnya kesempatan untuk berkembang. Kamu terlalu takut untuk mengambil inisiatif. Di lingkungan BUMN atau instansi besar, kepatuhan pada aturan memang nomor satu. 

Namun, inovasi juga tetap dibutuhkan. Jika rasa tidak percaya diri ini dibiarkan, kamu akan terjebak. Kamu berada dalam zona nyaman yang sempit. Perlahan-lahan, kamu kehilangan gairah kerja karena selalu merasa terancam.

​Rasa takut salah ini juga bisa mempengaruhi caramu berkomunikasi dengan tim. Kamu mungkin menjadi terlalu defensif. Atau, justru menjadi terlalu pasif. 

Pada akhirnya, hal ini malah memicu ketidaksenangan rekan kerja. Ingatlah bahwa integritas dalam mengelola dana negara dimulai dari kejujuran mental. 

Mengakui bahwa kamu butuh bimbingan jauh lebih mulia. Daripada memaksakan diri tampil sempurna namun menyimpan kecemasan yang menghancurkan jiwa.

​Strategi Membangun Keberanian dan Mengelola Tanggung Jawab Besar

​Lalu, bagaimana cara praktis untuk bangkit dari rasa minder ini? 

Langkah Pertama, Menerapkan Sistem Cek Kroscek

Sistem ini harus berlapis namun terukur. Daripada hanya cemas sendirian, aku mulai membangun komunikasi. Aku bicara lebih terbuka dengan atasan dan rekan senior. 

Aku belajar sesuatu. Bertanya untuk memastikan kepatuhan aturan bukanlah tanda kelemahan. Melainkan, itu tanda profesionalitas tinggi dalam menjaga amanah APBN.

​Kedua, Mulailah Melakukan Self-Talk yang Objektif dan Positif

Setiap kali rasa panik datang, aku menarik napas. Aku berkata: "Aku di sini karena aku lulus seleksi. Aku punya kapasitas. Dan kalaupun ada kesalahan, ada sistem yang bisa memperbaikinya." 

Fokuslah pada proses kerja setahap demi setahap. Jangan fokus pada bayangan buruk di masa depan yang belum tentu terjadi. 

Kamu tidak sedang menyelamatkan dunia sendirian. Kamu adalah bagian dari sebuah sistem besar yang saling mendukung.

​Terakhir, Terimalah Bahwa Kesalahan Adalah Bagian Dari Kemanusiaan Kita

Asalkan, kita memiliki niat jujur dan mau bertanggung jawab. Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar sesuatu. 

Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Melainkan, tetap melangkah meskipun lutut gemetar. Kamu berhak berada di posisi itu. 

Kamu mampu menghandle proyek tersebut dengan sebaik-baiknya. Percayalah pada prosesmu sendiri seperti orang lain telah percaya padamu.

​Rasa tidak pede mungkin tidak akan hilang dalam semalam. Tapi, ia akan mengecil seiring dengan jam terbang. Ia mengecil seiring keberanianmu untuk menghadapi tanggung jawab. 

Kamu bukan sedang memikul beban itu sendirian. Ada doa orang tua dan kerja kerasmu selama ini yang menjadi pondasi. Di laman Cerita Manusia ini, mari kita saling menguatkan. 

Setiap amanah besar adalah jalan bagi kita untuk tumbuh. Kita menjadi pribadi yang lebih tangguh. Tetaplah melangkah dengan jujur. Karena itulah esensi sejati dari seorang abdi negara.


Komentar