Kenapa Aku Merasa Salah Jurusan Atau Salah Pekerjaan? Ini yang Harus Dilakukan

Pria duduk di depan laptop di kantor gelap dengan bayangan dirinya berjalan keluar menuju hutan bercahaya.

Pernahkah kamu duduk di depan laptop pada hari Senin pagi? Kamu menatap layar dengan pandangan kosong. Tiba-tiba, dadamu terasa sesak. Kamu menyadari bahwa kamu membenci apa yang kamu kerjakan. 

Kita sepakat bahwa menyadari diri "salah pilih pekerjaan" adalah kenyataan pahit. Hal itu membuat kita merasa gagal, tidak kompeten, dan kehilangan arah hidup. Rasanya sangat melelahkan. 

Setiap hari, kita harus memaksakan diri melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan hati. Sementara itu, tagihan terus menanti.

​Jika hari ini kamu merasa terjebak dalam karier yang salah, dan stres pekerjaanmu mulai menggerogoti kesehatan mentalmu, tulisan ini adalah ruang aman untukmu. Aku berjanji akan membantumu memahami. 

Perasaan ini bukanlah akhir dari duniamu. Ini adalah sebuah sinyal. Jiwamu sedang meminta perubahan. Mari kita bedah cara berdamai dengan situasi ini. 

Belajarlah dari titik terendahku. Saat itu, aku merasa menjadi orang paling tidak kompeten di ruang rapat.

Hi, bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik, aku doakan yang terbaik untukmu, aamiin. 

​Saat "Bisa" Tidak Lagi Sama dengan "Bahagia"

​Beberapa tahun lalu, aku mengambil sebuah posisi mentereng di perusahaan besar. Aku tergiur gengsi dan gaji yang lumayan. Awalnya, aku pikir aku bisa mengatasinya. Aku memiliki kualifikasi di atas kertas. 

Aku pun sanggup menyelesaikan tugas-tugas itu. Namun, hanya dalam hitungan bulan, kenyataan memukulku dengan keras. Aku sangat tidak nyaman dengan ritme kerjanya. Aku merasa kurang ahli dibandingkan rekan-rekan setiaku.

​Setiap kali ada tugas baru, perutku langsung mulas. Tanganku gemetar karena rasa takut akan kegagalan yang tidak rasional. Aku memang "bisa" melakukan pekerjaannya. Tapi, setiap detiknya terasa seperti sedang mendaki gunung. 

Ada beban ratusan kilo di punggungku. Aku merasa seperti penipu yang sedang menyamar. Di luar, aku terlihat profesional. Tapi di dalam, aku hancur karena stres pekerjaan yang tak kunjung reda.

​Aku ingat satu malam aku menangis di parkiran kantor. Aku enggan untuk pulang. Tapi, aku terlalu takut untuk datang kembali esok hari. 

Aku merasa salah milih kerjaan. Aku menyalahkan diriku sendiri karena tidak cukup kuat. Aku merasa tidak cukup pintar seperti orang lain. 

Perasaan "salah tempat" ini membuatku kehilangan selera makan. Aku bahkan mulai menarik diri dari teman-teman. Aku merasa tidak punya hal membanggakan untuk diceritakan.

​Memahami Fenomena Imposter Syndrome dan Ketidakcocokan Karier

​Kenapa rasa tidak nyaman ini bisa berubah menjadi stres yang hebat? Dalam dunia psikologi, apa yang aku alami sering kali tumpang tindih dengan Imposter Syndrome. 

Kita merasa tidak layak berada di posisi saat ini. Kita takut orang lain menyadari bahwa kita "kurang ahli". Ditambah lagi dengan ketidakcocokan nilai (value mismatch). Setiap hari menjadi perang batin antara tuntutan profesional dan integritas pribadi.

​Stres pekerjaan karena merasa salah pilih karier bukan sekadar lelah biasa. Itu adalah Emotional Exhaustion. Otakmu dipaksa bekerja dua kali lipat lebih keras. Pertama, untuk menyelesaikan tugas. Kedua, untuk menekan rasa tidak nyamanmu. 

Inilah alasan mengapa kamu tetap merasa sangat lelah. Padahal, beban kerjamu mungkin tidak seberat temanmu yang lain. Yang lelah bukan hanya fisikmu, tapi jiwamu.

​Banyak dari kita terjebak dalam "Sunk Cost Fallacy". Itu adalah perasaan bahwa kita sudah terlanjur basah. Kita sudah kuliah di bidang ini. Atau, kita sudah bekerja sekian lama. 

Kita merasa harus bertahan selamanya. Padahal, terus bertahan di tempat yang mematikan semangat adalah resep menuju burnout yang parah. 

Menyadari bahwa "bisa" melakukan sesuatu tidak berarti kamu "harus" melakukannya seumur hidup. Ini adalah kunci awal untuk membebaskan diri dari rasa bersalah.

​Dampak Mental saat Merasa Kurang Ahli di Lingkungan Kerja

​Ketika kamu terus merasa kurang ahli, harga dirimu (self-esteem) akan menurun drastis. Kamu mulai memandang dirimu sebagai produk gagal. 

Hal itu terjadi hanya karena kamu berada di ekosistem yang salah. Padahal, seekor ikan akan selalu merasa bodoh jika disuruh memanjat pohon. Bukan karena ikannya yang lemah. Tapi, karena lingkungannya tidak mendukung potensi aslinya.

​Dampak stres di tempat kerja karena rasa tidak kompeten ini bisa memicu gangguan kecemasan (anxiety). Bahkan, bisa memicu depresi ringan. Kamu mulai membawa beban kantor ke meja makan rumah. 

Kamu membawanya ke tempat tidur, hingga terbawa ke dalam mimpi. Jika ini dibiarkan, kamu akan kehilangan kemampuan untuk menikmati hal-hal lain. Pikiranmu sudah terpatri pada rasa gagal yang kamu rasakan di kantor.

​Rasa tidak nyaman ini juga sering diperparah oleh perbandingan sosial di media sosial seperti LinkedIn. Melihat orang lain tampak bersemangat dengan karier mereka membuatmu merasa tercekik. 

Kamu merasa sendirian dalam penderitaan ini. Namun, percayalah. Banyak orang di luar sana yang juga memakai "topeng" yang sama denganku dulu. 

Mereka bertahan demi status. Namun, hati mereka juga sedang menjerit karena salah milih kerjaan.

​Strategi Bertahan dan Merancang Exit Plan yang Sehat

​Lalu, apa yang harus kita lakukan jika pengunduran diri mendadak bukanlah pilihan? Hal ini biasanya karena kebutuhan ekonomi. 

Langkah Pertama yang Kulakukan Adalah Mengubah Perspektif Tentang Pekerjaan

Aku mulai melihat pekerjaanku sebagai "kontrak waktu" untuk mendapatkan modal. Pekerjaan bukan penentu identitas diriku. 

Dengan begitu, rasa stres pekerjaan menjadi sedikit berkurang. Aku tidak lagi memberikan seluruh hatiku pada tempat yang tidak menghargaiku.

​Kedua, Mulailah Memetakan Keahlian yang Benar-Benar Kamu Sukai

Lakukan itu di sela-sela waktu luang. Aku mulai mengambil kursus singkat. Aku membangun portofolio di bidang yang membuatku merasa "hidup". Meski bidang itu sangat berbeda dengan pekerjaanku saat ini. 

Hal ini memberikan secercah harapan di ujung lorong yang gelap. Kamu tidak lagi merasa terjebak selamanya. Kamu sedang membangun jembatan untuk menyeberang ke pulau yang lain.

​Terakhir, Carilah Dukungan Dari Orang-Orang yang Memahami Kondisimu Tanpa Menghakimi

Berbagi cerita di komunitas seperti Cerita Manusia ini adalah salah satu cara. Kamu bisa melepaskan gas beracun di dalam dada. Ingatlah, mengakui bahwa kamu salah milih kerjaan adalah tanda kedewasaan. 

Itu adalah keberanian untuk jujur pada diri sendiri. Kamu berhak untuk bekerja di tempat yang baik. Tempat yang tidak hanya memberimu gaji, tapi juga memberimu kedamaian batin.

​Salah memilih jalan di masa lalu bukan berarti kamu tidak boleh berbalik arah. Kamu boleh mencari jalan tikus lainnya. Hidupmu terlalu berharga untuk dihabiskan dalam penderitaan delapan jam sehari. Itu terlalu lama untuk dilakukan lima hari seminggu. 

Di laman Cerita Manusia ini, kita percaya bahwa setiap kegagalan adalah pelajaran berharga. Itu membantu menemukan di mana sebenarnya "rumah" bagi bakat dan hatimu. 

Tetaplah bertahan. Sambil perlahan-lahan, rapikan langkah menuju tempat yang lebih baik.


Komentar