Tips Tetap Tenang Saat Dapat Kritik? Begini Caranya Menanganinya
Pernahkah kamu merasa diawasi setiap saat di kantor? Seolah-olah ada mata-mata. Ia siap melaporkan setiap gerak-gerikmu kepada atasan. Kita pasti sepakat. Memiliki rekan kerja yang toksik dan hobi mengadu adalah penguras energi nomor satu.
Hal itu membuat semangat kerja hilang seketika. Rasanya sangat melelahkan. Kita hanya ingin bekerja dengan tenang. Namun, kita harus menghadapi kritik tidak penting. Ada pula interupsi yang mengganggu fokus setiap hari.
Jika hari ini kamu merasa muak. Kamu selalu dipojokkan oleh rekan kerja yang manipulatif. Tulisan ini adalah pelukan dukungan untukmu. Aku berjanji akan membantumu memahami.
Ini cara menetapkan batasan yang tegas. Kamu tidak lagi menjadi sasaran empuk drama kantor mereka. Mari kita bedah cara menghadapi rekan kerja yang suka mengadu.
Belajarlah dari masa-masa sulitku. Saat itu, aku harus satu meja dengan orang yang lebih mirip "detektif" daripada rekan tim.
Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik-baik saja ya, aku doakan yang terbaik, aamin.
Saat Meja Kantor Terasa Seperti Ruang Interogasi
Aku pernah berada di posisi yang sangat tidak nyaman. Berangkat kerja terasa seperti menyerahkan diri untuk diadili. Aku punya seorang rekan kerja. Entah apa tujuannya. Ia selalu ingin tahu apa yang sedang kukerjakan. Bahkan hingga detail terkecil.
Hal itu sebenarnya tidak ada hubungannya dengan dia. Dia sering bertanya macam-macam. Nadanya menyelidik. Lalu, ia memberikan kritik yang sama sekali tidak membangun. Padahal, saat itu aku sedang sibuk-sibuknya.
Yang paling membuatku sesak adalah kebiasaannya. Ia menjadi "penyambung lidah" yang buruk kepada atasan kami. Setiap kali aku izin ke toilet sedikit lebih lama. Atau, jika ada kesalahan kecil dalam drafku yang bahkan belum final.
Dia pasti sudah lebih dulu melaporkannya ke bos. Aku sering kali dipanggil ke ruangan atasan. Hal itu untuk hal-hal sepele. Semuanya sudah dibumbui dengan narasi negatif olehnya. Seolah-olah aku tidak kompeten dalam bekerja.
Rasanya sangat raw dan menyakitkan. Aku merasa dikhianati oleh orang yang seharusnya menjadi rekan seperjuangan. Ada satu momen di mana aku pulang dengan mata sembap.
Aku merasa harga diriku diinjak-injak. Ia memberikan kritik yang kasar di depan rekan-rekan lain. Aku terus bertanya-tanya. "Apa salahku sampai dia begitu membenciku?".
Hingga akhirnya, aku menyadari sesuatu. Perilakunya sama sekali bukan tentang kualitas kerjaku. Melainkan tentang ketidaknyamanannya sendiri.
Mengapa Rekan Kerja Toksik Suka Mengadu dan Menginterupsi?
Dalam dunia psikologi industri, fenomena ini sering dikaitkan dengan perilaku Insecure Attachment di tempat kerja.
Rekan kerja yang suka mengadu biasanya merasa terancam. Mereka terancam dengan keberadaan atau prestasimu. Sehingga, mereka berusaha menjatuhkanmu. Tujuannya agar terlihat "lebih baik" di mata atasan.
Mereka menggunakan informasi sebagai alat kekuasaan. Mereka merasa tidak memiliki keahlian yang cukup untuk bersaing secara sehat.
Cara menghadapi rekan kerja yang suka mengadu dimulai dengan memahami. Mereka sering kali memiliki sifat High-Conflict Personality.
Mereka mendapatkan kepuasan atau rasa aman. Terutama saat melihat orang lain kesulitan. Atau, saat mereka merasa menjadi "pahlawan" bagi atasan.
Kritik yang sering mereka berikan sebenarnya adalah bentuk proyeksi. Itu berasal dari standar diri mereka yang terlalu kaku. Atau, rasa iri yang terpendam.
Seringkali, interupsi dan pertanyaan mereka yang berlebihan memiliki tujuan. Yaitu untuk memecah fokusmu (Distraction Technique). Dengan membuatmu merasa tidak tenang, mereka berharap kinerjamu menurun.
Sehingga, narasi mereka tentang "kekuranganmu" kepada atasan menjadi kenyataan. Menyadari pola manipulasi ini adalah langkah krusial. Agar kamu tidak lagi terjebak dalam permainan emosi. Permainan yang mereka ciptakan setiap harinya.
Dampak Psikologis Lingkungan Kerja yang Penuh Pengkhianatan
Berada di bawah pengawasan ketat dari rekan kerja sendiri bisa memicu stres kronis. Hal ini disebut Workplace Hypervigilance. Kamu menjadi selalu waspada.
Kamu takut berbuat salah. Kamu kehilangan kreativitas. Sebab, energi mentalmu habis hanya untuk menjaga diri dari fitnah. Dampak psikologis ini sangat nyata.
Kamu mungkin mulai mengalami kecemasan saat hari Minggu tiba. Karena membayangkan hari Senin yang penuh drama.
Selain itu, perilaku rekan kerja yang sering mengadu ini merusak kepercayaan tim. Hal ini merusak secara keseluruhan.
Kamu menjadi sulit untuk berkolaborasi dengan tulus. Selalu ada rasa curiga. Bahwa apa yang kamu katakan akan diputarbalikkan di depan atasan.
Lingkungan seperti ini adalah resep utama menuju burnout emosional. Kamu merasa hampa. Kamu kehilangan makna dari pekerjaan yang kamu cintai.
Kritik yang tidak perlu secara terus-menerus juga bisa berdampak buruk. Hal itu bisa menghancurkan self-esteem atau kepercayaan dirimu.
Kamu mulai meragukan kemampuanmu sendiri. Hanya karena ada satu orang yang selalu menunjuk celah kecilmu. Jika ini dibiarkan, kamu akan kehilangan keberanian.
Terutama untuk mengambil peluang baru. Kamu merasa diri tidak cukup baik. Padahal, masalahnya hanyalah lingkunganmu. Kamu berada di sekitar orang yang "beracun".
Strategi Menghadapi Kritik Tidak Perlu dan Menjaga Profesionalitas
Lalu, bagaimana cara kita mengambil kembali kendali? Terutama atas ketenangan diri kita.
Langkah pertama yang kulakukan adalah menetapkan batasan yang sangat tegas (Setting Boundaries).
Jika dia mulai bertanya hal-hal yang tidak relevan. Atau, jika ia memberikan kritik yang tidak diminta.
Aku akan menjawab dengan sopan namun dingin. "Terima kasih masukannya, tapi aku sedang fokus menyelesaikan ini sekarang. Agar sesuai dengan instruksi atasan." Jangan berikan ruang untuk diskusi emosional yang tidak perlu.
Kedua, gunakan teknik "Document Everything".
Karena dia suka mengadu, pastikan setiap hasil kerjamu terdokumentasi. Simpanlah dengan baik melalui email.
Laporkan progresmu langsung ke atasan secara rutin. Lakukan sebelum dia sempat memberikan "laporan palsunya". Dengan bersikap proaktif, kamu menutup celah. Ia tidak bisa memanipulasi informasi. Atasanmu akan lebih percaya pada fakta tertulis darimu. Daripada desas-desus darinya.
Terakhir, belajarlah untuk bersikap tidak peduli (Indifference).
Fokuslah pada nilai dirimu. Fokuslah pada tujuan kariermu. Bukan pada kebisingan yang dia ciptakan. Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar sesuatu.
Kedamaian batin kita adalah tanggung jawab kita sendiri. Itu bukan milik rekan kerja yang toksik. Ingat, keberhasilan terbaik adalah tetap bersinar. Berikan hasil kerja maksimal. Jangan terpengaruh oleh upaya orang lain untuk menjatuhkanmu.
Menghadapi rekan kerja yang hobi mengadu memang menguras batin. Tapi, jangan biarkan perilakunya mengubahmu menjadi orang yang pahit.
Kamu lebih dari sekadar rumor yang dia sebarkan. Integritas kerjamu akan bicara jauh lebih keras daripada pengaduannya.
Tetaplah berdiri tegak dengan profesionalitasmu. Karena pada akhirnya, kualitas sejati tidak akan pernah bisa ditutup-tutupi. Drama kantor mana pun tidak akan sanggup melakukannya.

Komentar
Posting Komentar