Bagaimana Cara Menghadapi Quarter Life Crisis? Bingung Mau Jadi Apa.

Cerita Manusia - Ilustrasi tentang kecemasan masa depan, dilema memilih jurusan kuliah, dan tekanan karir di era digital


Aku tahu rasanya terbangun di jam tiga pagi, menatap langit-langit kamar, dan tiba-tiba sesak napas, karena satu pertanyaan sederhana: "Sebenarnya aku ini mau jadi apa?" 

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?

Kita lanjutin ya. Kamu nggak sendirian merasakannya, karena jujur, aku pun masih sering bertarung dengan suara-suara bising itu di kepalaku.

​Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi perspektif baru, tentang bagaimana cara berdamai dengan ketidakpastian tanpa harus kehilangan diri sendiri. 

Kita akan membedah mengapa fase ini terjadi? Bagaimana cara mengubah rasa takut, menjadi kompas yang menuntunmu ke arah yang tepat.

​Mari kita bicara dari hati ke hati, tanpa penghakiman, tentang cara menavigasi badai di usia dua puluhan atau tiga puluhan ini.

​Memahami Penyebab Quarter Life Crisis dan Perasaan Tersesat

​Berada di usia dua puluhan atau tiga puluhan, sering kali terasa seperti dilempar ke tengah samudra tanpa pelampung. Kita melihat ke kanan dan ke kiri, melihat orang lain tampak berenang dengan gaya yang sangat meyakinkan menuju pulau impian mereka.

​Sementara itu, kita di sini, masih berusaha mengatur napas dan bertanya-tanya ke mana sebenarnya arah tujuan kita. Itulah wajah asli dari Quarter Life Crisis, sebuah fase di mana pertanyaan tentang masa depan nggak lagi terdengar seperti mimpi, melainkan seperti tuntutan.

​Dulu, aku pernah berada di posisi yang sangat krusial: saat harus memilih jurusan kuliah. Di saat teman-temanku dengan mudahnya mengikuti tren atau sekadar ikut-ikutan karena gengsi, aku justru merasa mematung.

​Aku ingat betul rasa cemas itu. Aku nggak mau asal ambil jurusan hanya karena "semua orang melakukannya." Aku memikirkan jangka panjangnya, tapi ironisnya, pemikiran itu malah membuatku merasa sangat terisolasi.

​Aku merasa seperti orang aneh karena terlalu banyak berpikir, sementara dunia di sekitarku bergerak begitu cepat. Ternyata, kebingungan arah hidup itu muncul karena kita terlalu banyak menyerap ekspektasi dari luar.

​Kita dibombardir oleh standar kesuksesan di media sosial yang seragam: mapan di usia muda, punya bisnis sendiri, atau keliling dunia sebelum usia tiga puluh. Akibatnya, kita merasa bahwa jika kita belum "menjadi sesuatu" sekarang, maka kita telah gagal secara permanen.

Baca opini serupa:Kenapa Kita Tidak Menikmati Hidup? Ini yang Wajib Dilakukan.

​Strategi Menghadapi Kebingungan Karir dan Jati Diri

​Ketakpastian ini diperparah dengan rasa takut akan salah memilih jalan. Kita merasa setiap keputusan yang kita ambil saat ini akan menentukan nasib kita selamanya, padahal hidup sering kali jauh lebih fleksibel.

​Jika saat ini kamu merasa sedang tersesat di persimpangan jalan, hal pertama yang harus kamu sadari adalah: hidup bukanlah sebuah perlombaan. Kamu nggak sedang bertanding dengan siapa pun di sirkuit ini.

​Jam biologis dan jam nasib tiap orang berbeda-beda. Hanya karena temanmu sudah sampai di tujuannya hari ini, bukan berarti kamu terlambat; mungkin jalanmu memang lebih meliuk karena ada banyak pelajaran yang harus kamu kumpulkan.

​Daripada terus mencemaskan akan jadi apa kamu sepuluh tahun lagi, cobalah untuk fokus pada apa yang bisa kamu pelajari hari ini. Keterampilan kecil yang kamu asah sekarang, mungkin akan menjadi kunci yang membuka pintu nggak terduga di masa depan.

​Belajarlah untuk mendefinisikan ulang makna sukses menurut versimu sendiri. Berhentilah menggunakan alat ukur orang lain untuk mengukur hidupmu yang unik.

​Jika bagimu sukses adalah bisa bekerja dengan tenang tanpa tekanan mental yang berat, maka kejarlah itu tanpa rasa malu. Mencari jati diri berarti berani jujur pada keinginan hati sendiri, meski itu nggak terlihat "keren" di mata orang lain.

​Menemukan Makna Hidup di Tengah Ketidakpastian Masa Depan

​Kita perlu belajar untuk berteman dengan kenggakpastian, bukan malah memusuhi atau melarikan diri darinya. Mungkin, kita nggak perlu segera memiliki jawaban atas semua pertanyaan besar dalam hidup saat ini juga.

​Terkadang, jawaban itu justru ditemukan "sambil jalan." Ia bersembunyi di antara kegagalan-kegagalan kecil dan keberanian-keberanian sederhana, untuk mencoba hal baru yang belum pernah kita sentuh sebelumnya.

​Pengalamanku saat memilih jurusan dulu mengajarkanku satu hal: ketelitian dan kejujuran pada diri sendiri jauh lebih berharga daripada kecepatan. 

Meskipun saat itu aku merasa tertinggal karena ragu-ragu, ternyata keraguan itu adalah bentuk "filter" agar aku nggak terjebak dalam penyesalan yang lebih besar.

​Jangan biarkan tekanan untuk "menjadi seseorang" membuatmu lupa bahwa kamu sudah menjadi seseorang yang sangat berharga saat ini juga.

Kamu adalah manusia yang sedang bertumbuh, dan setiap pertumbuhan, sekecil apa pun, selalu membutuhkan waktu dan nutrisi yang cukup.

​Tak apa jika saat ini kamu masih mencari; sebab sering kali, di dalam pencarian itulah kita justru menemukan bagian-bagian terbaik dari diri kita yang selama ini tersembunyi. 

Fokuslah pada langkah kakimu sendiri, sekecil apa pun itu, karena setiap langkah adalah progres.

​Cobalah kurangi melihat update pencapaian orang lain, jika itu hanya membuatmu merasa kecil. Ingatlah bahwa apa yang mereka tunjukkan di media sosial hanyalah puncak gunung es yang berkilau, bukan seluruh perjuangan berdarah-darah di bawah permukaan air.

​Refleksi Akhir untukmu

​Kamu nggak harus memiliki peta yang sempurna untuk mulai berjalan. Terkadang, cukup dengan membawa sebuah senter kecil yang hanya mampu menerangi dua langkah ke depan. Berjalanlah dua langkah itu, lalu dua langkah lagi.

​Aku percaya, setiap rasa bingung yang kamu alami saat ini adalah sinyal bahwa jiwamu sedang menginginkan sesuatu yang lebih bermakna, daripada sekadar mengikuti arus. Jangan padamkan sinyal itu dengan rasa cemas.

​Apakah ada satu hal yang sebenarnya ingin kamu coba tapi selama ini kamu tunda karena takut gagal?

Baca opini serupa: Menipu Diri Sendiri? Agar Terlihat Kuat.

Gimana sahabat Cermia? Pernahkah kamu mengalaminya? Coba ceritain di kolom komentar ya. 


Komentar