Kenapa Kita Tidak Menikmati Hidup? Ini Yang Wajib Dilakukan.
Hi, sahabat Cermia.
Bagaimana kabarmu?
Semoga kabarmu baik-baik saja ya?
Aku tahu rasanya punya sesuatu yang terlalu berharga untuk disentuh. Kamu pasti pernah merasakannya juga, kan?
Entah itu sepasang sepatu mahal yang masih rapi di dalam kotak, atau keberanian untuk menyatakan sayang yang terus kamu simpan di ujung lidah.
Kita sering terjebak dalam pola pikir bahwa kebahagiaan adalah sebuah hadiah di masa depan yang harus kita "tebus" dengan penderitaan atau penantian panjang hari ini.
Dalam tulisan ini, aku ingin berbagi cerita jujur tentang bagaimana kebiasaan menunda kebahagiaan justru membuat kita kehilangan momen-momen paling berharga dalam hidup.
Kita akan membedah, mengapa psikologi manusia cenderung takut menikmati apa yang mereka miliki? Bagaimana cara mulai menghargai setiap detik yang kita punya sebelum semuanya berubah menjadi kenangan?
Aku ingin mengajakmu, melihat bahwa satu-satunya waktu yang benar-benar kita miliki adalah detik ini juga.
Harga Sebuah Botol Parfum dan Jebakan "Momen Spesial"
Beberapa tahun lalu, aku memiliki sebuah parfum yang bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi bagiku itu adalah simbol perjuangan.
Aku membelinya dengan harga yang tidak murah, setidaknya untuk ukuran kantongku saat itu. Untuk mendapatkan botol kecil itu, aku harus menukar waktu, tenaga, dan pikiranku selama satu bulan penuh.
Setiap tetes cairan di dalamnya adalah representasi dari lembur malam yang melelahkan, kopi-kopi pahit yang menemaniku bekerja. Karena nilainya yang begitu besar, aku memperlakukannya seperti benda keramat.
Aku menyimpannya di bagian terdalam lemari, terhindar dari sinar matahari, dan hanya berniat memakainya di "momen spesial".
Pikiranku saat itu sederhana: momen spesial seperti pernikahan sahabat, lamaran, acara keluarga besar, pertemuan bisnis atau makan bersama orang penting adalah panggung yang layak untuk aroma ini.
Aku tidak ingin "menyia-nyiakannya" hanya untuk sekadar pergi ke kantor atau sekadar nongkrong di kedai kopi biasa. Aku merasa, memakai parfum itu di hari biasa adalah sebuah pemborosan.
Namun, hari demi hari berlalu, dan momen yang aku anggap "cukup spesial" itu belum kunjung datang. Atau mungkin sebenarnya momen itu ada, tapi standarku tentang apa yang disebut "spesial" terlalu tinggi.
Aku terus menunggu dan menunggu, sementara parfum itu duduk manis dalam kegelapan lemari, perlahan-lahan kehilangan aromanya, tanpa pernah benar-benar menyentuh kulitku.
Psikologi menyebut fenomena ini sebagai delayed gratification yang berlebihan. Kita sering kali merasa tidak layak mendapatkan yang terbaik hari ini, jika belum mencapai titik tertentu.
Kita menciptakan syarat-syarat rumit untuk bahagia, seolah-olah hidup adalah sebuah ujian yang hasilnya baru boleh dirayakan, saat hari kelulusan tiba. Padahal, hidup adalah perjalanan itu sendiri, bukan hanya upacara wisudanya.
Baca opini serupa:Menipu Diri Sendiri? Agar Terlihat Kuat.
Realitas Pahit: Ketika Waktu Tak Lagi Berpihak pada Kita
Titik balikku terjadi ketika aku kehilangan seseorang sahabat secara tiba-tiba. Di hari pemakamannya, aku berdiri di depan lemari, mencari pakaian hitam yang pantas, dan mataku tertuju pada botol parfum yang masih hampir penuh itu.
Ada rasa sesak yang aneh muncul di dadaku. Aku menyadari bahwa orang yang pergi itu tidak pernah sempat menggunakan "hal-hal baik" yang dia simpan untuk masa depan.
Dia pergi dengan banyak rencana yang belum terlaksana, dengan banyak barang "istimewa" yang masih tersimpan rapi. Di saat itulah, logika tentang "menunggu momen spesial" hancur berkeping-keping di kepalaku.
Apa gunanya menyimpan sesuatu yang paling kita cintai, jika pada akhirnya kita tidak pernah merasakannya? Kita sering merasa memiliki waktu selamanya, padahal kenyataannya, hidup ini sangat rapuh.
Kita bisa merencanakan hari esok, tapi kita tidak pernah benar-benar memilikinya, sampai hari itu benar-benar tiba. Kematian adalah guru yang paling jujur, tentang bagaimana kita seharusnya hidup.
Ia mengajarkan, bahwa menunda kebahagiaan demi masa depan yang belum pasti, salah satu bentuk pengabaian diri yang paling halus. Kita mengorbankan perasaan senang yang nyata hari ini untuk sebuah janji kosong yang mungkin tidak akan pernah tepat dengan usia kita.
Setelah hari itu, aku mulai memakai parfum tersebut. Bukan untuk acara besar, tapi untuk diriku sendiri.
Aku memakainya saat bangun pagi, saat menulis di meja kerja, bertemu sembarang orang, sembarang acara, bahkan saat hanya ingin pergi membeli kebutuhan pokok.
Wanginya tidak lagi melambangkan "status", melainkan pengingat bahwa aku masih bernapas, dan itu adalah alasan yang cukup spesial untuk merayakannya. Karena setiap hari adalah spesial bagiku.
Cara Berhenti Menunda Hidup dan Mulai Menghargai Hari Ini
Berhenti menunda kebahagiaan bukan berarti kita menjadi pribadi yang impulsif, yang tidak punya rencana masa depan. Ini lebih kepada mengubah mindset dari "hidup untuk nanti" menjadi "hidup untuk sekarang".
Kita perlu menyadari bahwa setiap pagi yang kita temui adalah sebuah kemewahan yang sering kali kita anggap biasa saja.
Langkah pertama, yang bisa kamu lakukan adalah menurunkan standar "momen spesial" itu.
Jangan menunggu hari pernikahan untuk memakai baju terbaikmu. Jangan menunggu sukses besar untuk makan enak bersama orang tua. Spesialkanlah harimu karena kamu memilih untuk menjadikannya spesial, bukan karena kalender yang mengatakannya.
Kedua, belajarlah untuk memaafkan dirimu saat menikmati hasil kerja kerasmu.
Banyak dari kita merasa bersalah saat bersenang-senang, seolah-olah kita sedang mencuri waktu dari pekerjaan. Padahal, istirahat dan kegembiraan adalah bahan bakar agar kita bisa terus berjalan. Tanpa itu, kita hanya akan menjadi mesin yang perlahan-lahan aus dan rusak.
Terakhir, ingatlah pesan ini, sesuatu yang berharga akan menjadi sia-sia jika tidak pernah digunakan.
Nilai dari sebuah barang, hubungan, atau perasaan terletak pada pengalamannya, bukan pada kepemilikannya. Jika kamu punya cinta, sampaikan sekarang. Jika kamu punya impian kecil, mulailah sekarang.
Jangan biarkan "parfum" dalam hidupmu menguap di dalam lemari yang gelap. Pakailah wanginya hari ini, biarkan ia tercium oleh dunia, dan biarkan hatimu merasakan kehangatan yang sudah lama kamu tunda.
Sebab, pada akhirnya, bukan berapa lama kita hidup yang menentukan kualitas hidup kita, tapi seberapa banyak momen yang benar-benar kita "hadir" di dalamnya. Karena itu, ini bukan soal parfum.
Baca opini serupa: Kenapa Hidup Terasa Hampa? Beginilah Yang Seharunya Dilakukan.
Gimana menurutmu? Pernah mengalami hal seperti apa sobat Cerita Manusia? Tulis ya, di kolom komentar.

Komentar
Posting Komentar