​Cara Berhenti Menyalahkan Diri Sendiri Atas Masa Lalu? Belajar Memaafkan



Pernahkah kamu terbangun di tengah malam, lalu tiba-tiba teringat satu kesalahan bodoh di masa lalu? Kesalahan membuat jantungmu berdegup kencang, karena malu atau menyesal? 

Hi, sahabat Cermia. Gimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?

Kita sering kali menjadi hakim yang paling kejam bagi diri kita sendiri, menghukum diri atas keputusan-keputusan, yang sebenarnya sudah nggak bisa diubah lagi.

​Jika kamu merasa terjebak dalam penyesalan yang tak berujung, aku ingin kamu tahu bahwa, ada jalan keluar untuk berdamai dengan bayang-bayang itu.

Tulisan ini nggak akan memberimu motivasi kosong, melainkan sebuah refleksi jujur tentang bagaimana aku merangkak keluar dari rasa bersalah? 

Kita akan membahas mengapa otak kita suka mengulang kesalahan lama? Langkah nyata untuk mulai memaafkan diri sendiri.

​Saat Pintu Sekolah Tertutup dan Air Mata Orang Tua Jatuh

​Aku punya satu rahasia yang sempat membuatku merasa nggak punya masa depan. Aku pernah dikeluarkan dari sekolah. 

Semuanya dimulai dari rasa malas yang berubah menjadi kebiasaan bolos yang kronis. Awalnya terasa keren, merasa bebas dari tugas-tugas yang membosankan, sampai akhirnya surat pemanggilan orang tua itu datang.

​Aku ingat betul suasana di ruang kepala sekolah hari itu. Ayah dan Ibu duduk dengan punggung yang membungkuk. 

Wajah mereka memerah, karena menahan malu di depan guru-guru. Saat keputusan drop out diketuk, aku melihat Ibu menyeka air matanya tanpa suara. 

Detik itu, rasa bersalah menghantamku lebih keras, daripada hukuman apa pun. Aku telah menjadi kegagalan terbesar dalam keluarga.

​Selama bertahun-tahun setelah kejadian itu, aku hidup dengan label "anak gagal" di dahiku sendiri. 

Setiap kali aku mencoba memulai sesuatu yang baru, suara di kepalaku selalu berbisik: "Buat apa mencoba? Kamu kan cuma anak nakal yang bikin malu orang tua.*

Menyalahkan diri sendiri menjadi aktivitas harianku. Sebuah penjara pikiran yang kubangun sendiri dengan tembok penyesalan yang sangat tinggi.

Baca opini yang serupa: Cara Mengatasi Trauma Masa Kecil? Ini Yang Harus Dilakukan

​Psikologi di Balik Rasa Bersalah: Kenapa Kita Sulit "Move On"?

​Secara ilmiah, rasa bersalah sebenarnya adalah mekanisme moral yang membantu manusia tetap berada di jalur yang benar.

Namun, ketika rasa bersalah itu berubah menjadi "Chronic Self-Blame" atau menyalahkan diri sendiri secara terus-menerus. 

Ia menjadi racun bagi kesehatan mental. Otak kita terus mengulang kejadian masa lalu, karena ia mencoba mencari "jalan keluar" dari masalah yang sebenarnya sudah selesai.

​Mengapa kita sulit memaafkan diri sendiri atas kesalahan, seperti bolos sekolah atau mengecewakan orang tua? Hal ini sering berkaitan dengan Cognitive Dissonance.

Kita memiliki gambaran ideal tentang diri kita (misal: anak yang baik), tapi kenyataannya kita melakukan kesalahan besar. Ketimpangan ini menciptakan rasa nggak nyaman yang luar biasa. 

Sehingga kita menghukum diri sendiri untuk mengurangi rasa bersalah tersebut. Selain itu, rasa malu (shame) berbeda dengan rasa bersalah (guilt). 

Rasa bersalah berkata "Aku melakukan hal buruk", sedangkan rasa malu berkata "Aku adalah orang yang buruk". 

Jika kamu merasa seperti aku dulu, merasa identitasmu adalah sebuah kegagalan, maka kamu sedang terjebak dalam rasa malu yang destruktif. Mengenali perbedaan ini adalah langkah pertama, untuk berhenti menyalahkan diri sendiri.

​Menghadapi Tatapan Masa Lalu yang Menghakimi

​Salah satu tantangan terbesar untuk berhenti menyalahkan diri sendiri adalah ketika orang lain masih mengingat kesalahan kita. 

Saat aku dikeluarkan dari sekolah, lingkungan tetangga mulai berbisik-bisik. Melihat orang tuaku harus menanggung malu di depan publik adalah beban yang paling sulit kulepaskan. Rasanya seperti aku membawa beban berat ke mana pun aku pergi.

​Namun, aku belajar bahwa kita nggak bisa mengontrol ingatan orang lain, tapi kita bisa mengontrol bagaimana kita meresponsnya. 

Menyalahkan diri sendiri, nggak akan menghapus air mata orang tua di masa lalu. Satu-satunya cara untuk membayar kesalahan tersebut, bukan dengan meratapi nasib, melainkan dengan membuktikan, bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik di masa sekarang.

​Sering kali, kita merasa perlu terus-menerus menderita agar merasa "layak" diampuni. Padahal, menghukum diri sendiri, hanya akan membuatmu kehilangan energi untuk memperbaiki masa depan. 

Ingatlah bahwa versi dirimu yang melakukan kesalahan dulu, adalah orang yang mungkin sedang bingung, tertekan, atau belum tahu apa-apa. 

Kamu yang sekarang lebih bijaksana, dan kamu berhak memberikan kesempatan kedua bagi dirimu yang dulu.

Langkah Nyata Berdamai dengan Diri Sendiri

​Lalu, bagaimana cara berhenti menyalahkan diri sendiri secara praktis, yaitu dengan benar?

Langkah pertama yang kulakukan adalah melakukan Self-Compassion. 

Cobalah bicara pada dirimu sendiri seolah-olah kamu sedang bicara pada sahabatmu yang sedang berduka. Apakah kamu akan memakinya? Tentu nggak. Jadi, berhentilah memaki dirimu sendiri dengan kata-kata kasar yang nggak akan pernah kamu ucapkan pada orang lain.

​Kedua, buatlah "Daftar Pembelajaran" bukan "Daftar Penyesalan". 

Alih-alih menulis "Aku bodoh karena bolos sekolah", ubahlah menjadi "Aku belajar bahwa lari dari masalah hanya akan menciptakan masalah baru". 

Dengan mengubah sudut pandang ini, kesalahan masa lalu berubah menjadi sekolah kehidupan yang mahal harganya. Ini adalah cara otak kita memproses trauma menjadi hikmah.

​Langkah selanjutnya, melakukan tindakan nyata untuk menebus kesalahan (Amends). 

Aku mulai dengan meminta maaf secara tulus kepada orang tuaku, bukan untuk menghapus masa lalu, tapi untuk memulai lembaran baru.

Tindakan nyata, sekecil apa pun, jauh lebih efektif menyembuhkan rasa hampa daripada seribu malam yang dihabiskan untuk menangis. Masa lalumu adalah tempat untuk belajar, bukan tempat tinggal tetap.

​Berdamai dengan masa lalu adalah sebuah perjalanan panjang, bukan sprint pendek.

Jika hari ini kamu masih merasa berat karena kesalahan kemarin, nggak apa-apa. Peluklah rasa sedih itu sejenak, lalu lepaskan perlahan. Kamu bukan kesalahanmu. 

Kamu adalah manusia yang sedang bertumbuh, dan di laman Cerita Manusia ini, kita semua sedang belajar untuk berjalan lagi meskipun pernah jatuh dengan sangat keras.

Baca opini yang serupa: Efek Sering Pura-Pura Bahagia? Ini Wajib Dihindari

Gimana menurutmu sahabat Cermia? Pernah mengalami kejadian yang serupa? Ceritain sekarang di kolom komentar ya. 


Komentar