Kenapa Aku Sulit Merasa Senang Saat Orang Lain Sukses? Ini Alasan Sebenarnya
Kita semua pasti pernah merasakannya, jempol yang terhenti saat melakukan scrolling di Instagram atau Tiktok. Menatap foto pernikahan mewah teman satu circle, lalu tiba-tiba ada rasa sesak yang muncul di dada. Atau hal lain yang serupa memberi dampak yang sama, terhenti saat scrolling.
Kamu mungkin merasa ikut senang, tapi di sudut hati yang paling dalam. Ada suara kecil yang berbisik, "Kenapa bukan aku? Kenapa hidupku seolah jalan di tempat?"
Kita sepakat, membandingkan proses hidup kita dengan hasil akhir orang lain, hal yang salah. Ini semacam cara tercepat untuk merampas kebahagiaan kita sendiri (menjadi tidak bahagia).
Jika hari ini kamu merasa minder dan tertinggal. Karena belum menikah sementara teman-temanmu sudah memamerkan kehidupan mapan. Tulisan ini adalah pelukan untuk hatimu yang sedang panas.
Kita akan memahami mengapa rasa iri itu, muncul dan bagaimana cara mengubahnya menjadi energi yang lebih positif. Mari kita bedah cara menghilangkan rasa iri pada pencapaian orang lain.
Belajar dari masa-masa terberatku saat merasa menjadi "si paling tertinggal" di antara teman-teman satu kelompok.
Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik ya. Mari kita lanjutkan.
Saat Undangan Pernikahan Terasa Seperti Vonis Kegagalan
Aku punya sebuah kotak di sudut kamar, yang berisi tumpukan undangan pernikahan dari hampir semua teman dekatku. Beberapa tahun lalu adalah tahun yang paling menyesakkan.
Setiap bulan selalu ada kabar pernikahan dari lingkaran pertemananku. Yang paling menyakitkan bukan hanya fakta bahwa mereka sudah menikah, tapi mereka seolah mendapatkan "paket lengkap". Suami yang mapan, rumah yang indah, dan kehidupan yang terlihat tanpa celah, sempurna.
Aku ingat satu momen saat kumpul bersama di sebuah kafe. Mereka semua sibuk membahas dekorasi rumah, asuransi pendidikan anak, hingga rencana liburan ke luar negeri bersama suami mereka yang kaya.
Aku duduk di sana, memegang gelas kopi yang sudah dingin, merasa seperti orang asing di tengah orang-orang yang dulu berjuang bersamaku di kampus. Rasanya sangat perih. Aku masih bergulat dengan karier yang belum stabil dan status hubungan yang entah ke mana arahnya.
Malam itu, sepulang dari kafe, aku menangis di depan cermin. Aku merasa buruk karena memiliki rasa iri kepada sahabat-sahabatku sendiri.
Aku mulai membenci notifikasi grup WhatsApp yang berisi foto-foto kebahagiaan mereka. Rasa iri itu perlahan berubah menjadi racun yang membuatku menarik diri.
Merasa tidak layak bergaul dengan mereka. Juga, merasa bahwa Tuhan sedang tidak adil padaku. Ini benar-benar menyakitkan.
Psikologi di Balik Perasaan Minder dan Perbandingan Sosial
Apa yang kita rasakan saat melihat teman lebih sukses atau lebih dulu menikah sebenarnya, adalah fenomena psikologi. Hal yang disebut sebagai Upward Social Comparison. Manusia secara alami cenderung membandingkan diri dengan orang yang dianggap "lebih" dari mereka.
Masalahnya, di era digital ini, kita membandingkan "panggung depan" mereka yang penuh riasan dengan "panggung belakang" kita yang penuh kekacauan dan cucian piring yang menumpuk.
Rasa iri yang kamu rasakan, terutama terkait pasangan kaya dan pernikahan. Sering kali merupakan cerminan dari kebutuhan kita yang belum terpenuhi.
Secara bawah sadar, otak kita menganggap pencapaian orang lain sebagai ancaman terhadap status sosial kita. Inilah jawaban kenapa kamu merasa minder. Bukan karena kamu orang jahat.
Namun karena jiwamu sedang merasa haus akan keamanan dan pengakuan. Seuatu yang menurutmu ada pada pernikahan mereka.
Penting untuk memahami istilah Relative Deprivation. Ini adalah kondisi di mana kita merasa "kurang" bukan karena kita tidak punya apa-apa. Namun, karena orang di sekitar kita punya "lebih".
Jika teman-temanmu belum menikah, mungkin kamu akan merasa baik-baik saja dengan kesendirianmu. Jadi, rasa sakit itu sebenarnya muncul dari standar luar yang kamu masukkan ke dalam hati, bukan dari kebutuhan aslimu sebagai manusia.
Dampak Rasa Iri terhadap Kesehatan Mental dan Hubungan Sosial
Cara menghilangkan rasa iri pada pencapaian orang lain menjadi mendesak karena jika dibiarkan. Ia akan merusak kesehatan mentalmu.
Rasa iri yang kronis memicu hormon stres (kortisol) meningkat. Membuatmu mudah lelah, sulit tidur, dan kehilangan kreativitas. Kamu menjadi terlalu sibuk memantau hidup orang lain, hingga lupa membangun hidupmu sendiri.
Akhirnya, kamu terjebak dalam lingkaran setan insecurity yang tidak ada habisnya. Selain itu, rasa iri ini sering kali merusak persahabatan yang sudah dibangun bertahun-tahun.
Kamu mulai bersikap sinis, memberikan komentar pasif-agresif, atau bahkan memutuskan kontak secara total. Kamu merasa bahwa dengan menjauh, rasa sakit itu akan hilang.
Padahal luka aslinya tetap ada di dalam dirimu. Mengisolasi diri karena rasa iri hanya akan membuatmu semakin hampa dan kesepian.
Dampak lainnya adalah munculnya kebencian pada diri sendiri (self-loathing). Kamu mulai mempertanyakan nilaimu sebagai manusia berdasarkan materi dan status pernikahan.
Kamu lupa bahwa suami kaya, bukan jaminan kebahagiaan batin dan pernikahan bukan sebuah perlombaan lari. Jika kamu mendefinisikan kesuksesan hanya dari apa yang dimiliki temanmu. Kamu akan selalu merasa kalah, karena di atas langit akan selalu ada langit yang lebih tinggi.
Langkah Menemukan Kepuasan Diri dan Berdamai dengan Garis Waktu
Lalu, bagaimana cara berhenti dari rasa iri ini? Sesuatu yang harus kita lakukan agar kamu bahagia.
Langkah pertama yang kulakukan, praktik syukur yang total
Setiap kali aku mulai iri melihat kemewahan teman, aku memaksa diriku untuk menulis tiga hal kecil. Sesuatu yang aku miliki dan mungkin mereka tidak miliki.
Banyak hal seperti kebebasan waktu, kedekatan dengan orang tua, atau hobi yang sedang kutekuni. Syukur adalah obat penawar paling mujarab untuk rasa iri. Karena ia memaksa otak kita fokus pada "apa yang ada", bukan "apa yang tidak ada".
Kedua, sadarilah konsep Timeline atau garis waktu yang berbeda
Hidup ini bukan jalan tol yang searah. Hidup adalah sebuah taman di mana setiap bunga mekar di musim yang berbeda. Temanmu mungkin mekar di musim pernikahan dan kekayaan materi saat ini, tapi itu tidak berarti musimmu tidak akan datang.
Mencintai diri sendiri berarti, memberi izin pada dirimu untuk bertumbuh sesuai kecepatanmu sendiri tanpa merasa bersalah.
Ketiga, lakukan Social Media Detox secara berkala
Berhentilah mengikuti akun-akun yang membuatmu merasa kecil. Fokuslah untuk meningkatkan nilai dirimu, bukan karena ingin menyaingi mereka. Namun, karena kamu menghargai dirimu sendiri.
Terkahir, beribadah dan berdoa
Ingatlah, cerita manusia tidak pernah sama. Suatu hari nanti, kamu akan melihat kembali masa ini dan menyadari bahwa keterlambatanmu sebenarnya adalah cara Tuhan melindungimu. Dengan mempersiapkanmu untuk sesuatu yang lebih baik dan bermakna.
Rasa iri adalah guru yang menunjukkan apa yang sebenarnya kamu inginkan. Namun, jangan biarkan dia menjadi tuan yang mengendalikan hidupmu.
Kamu berharga, dengan atau tanpa suami kaya, dan dengan atau tanpa status pernikahan di undangan. Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam perbandingan, melainkan dalam penerimaan yang tulus atas diri sendiri.

Komentar
Posting Komentar