Cara Self Healing yang Efektif Tanpa Keluar Uang? Inilah Solusinya
Pernahkah kamu merasa terbangun di pagi hari dengan perasaan lelah yang luar biasa, padahal kamu tidak pergi ke kantor mana pun? Kita sering kali merasa terjepit dalam rutinitas yang monoton.
Kegiatan mencuci, memasak, atau mengurus anak. Hingga rasanya ingin sekali melarikan diri sejenak untuk liburan.
Namun terhenti, karena kondisi ekonomi keluarga yang sedang sulit. Kita sepakat, bahwa menjadi Ibu Rumah Tangga (IRT) adalah pekerjaan tanpa jam istirahat.
Kegiatan yang sangat menguras mental. Saat terutama, keinginan untuk "healing" berbenturan dengan realita saldo tabungan.
Jika hari ini kamu merasa suntuk, ingin menangis karena kelelahan, dan merasa bersalah karena ingin liburan di saat suami sedang berjuang mencari nafkah, tulisan ini adalah untukmu.
Kita akan bersama memahami dan menemukan cara untuk bernapas kembali. Sesuatu yang dilakukan, tanpa harus merasa egois atau menambah beban finansial keluarga.
Mari kita bedah bagaimana cara mengatasi burnout pada ibu rumah tangga? Belajar dari kerapuhanku saat harus menelan keinginan liburan, demi membayar tanggungan kredit, biaya sekolah, dan tagihan listrik yang semakin menguras keuangan keluarga.
Hi sahabat Cermia, bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik ya, aamin. Mari kita lanjutkan pembahasannya.
Dilema Antara Dapur yang Mengepul dan Jiwa yang Layu
Aku masih ingat, satu sore di mana aku duduk di lantai dapur yang baru saja kusapu. Namun rasanya tenagaku sudah nol persen. Di layar ponselku, aku melihat postingan teman-teman yang sedang menikmati senja di Bali atau sekadar menginap di hotel cantik.
Di sisi lain, aku tahu betul bahwa kondisi keuangan kami sedang diuji. Suamiku baru saja mengalami pemotongan gaji dan kami harus sangat berhemat.
Ada rasa sesak yang muncul saat aku ingin berkata, "Mas, aku capek banget, boleh nggak kita jalan-jalan?".
Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Karena aku melihat wajah suamiku yang juga tampak sangat lelah mencari uang.
Aku merasa iri, sedih, dan marah pada keadaan. Menjadi IRT selama bertahun-tahun tanpa jeda, membuatku merasa seperti robot. Sebuah mesin yang tugasnya hanya memastikan semua orang bahagia, kecuali diriku sendiri.
Rasa ingin liburan itu bukan karena aku tidak bersyukur. Namun, karena jiwaku benar-benar butuh "pemandangan" baru selain tumpukan jemuran.
Penolakan terhadap keinginan sendiri itu, perlahan berubah menjadi kekesalan yang meledak-ledak kepada anak dan suami. Di sinilah aku sadar bahwa aku sedang mengalami burnout yang parah.
Sebuah kondisi, di mana aku sudah tidak punya lagi kasih sayang untuk dibagikan. Karena tangki emosiku sudah kering kerontang.
Mengenali Gejala Kelelahan Mental pada Ibu Rumah Tangga
Banyak orang meremehkan apa yang dirasakan IRT, menganggap "cuma di rumah saja" itu mudah. Padahal, secara psikologis, IRT sangat rentan mengalami Burnout Syndrome.
Cara mengatasi burnout pada ibu rumah tangga dimulai dengan menyadari gejalanya. Perasaan hampa, iritabilitas (mudah marah), sulit berkonsentrasi, hingga hilangnya minat pada aktivitas yang biasanya disukai.
Burnout terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara tuntutan (pekerjaan rumah yang tak ada habisnya) dan sumber daya (waktu istirahat atau apresiasi). Ketika kamu merasa ingin liburan. Namun tidak bisa karena masalah ekonomi, otakmu mengalami Decision Fatigue dan stres kronis.
Kamu merasa terjebak dalam sangkar emas yang membosankan. Ini bisa memicu depresi ringan jika tidak segera ditangani.
Penting untuk memahami konsep Invisible Labor atau kerja tak terlihat. Segala perencanaan menu, atau memastikan stok sabun habis. Hingga menjaga emosi seluruh anggota keluarga adalah pekerjaan mental yang sangat berat.
Inilah alasan kenapa kamu merasa capek luar biasa, meski secara fisik kamu hanya "di rumah". Jangan biarkan orang lain, atau dirimu sendiri, meremehkan kelelahan yang nyata ini.
Dampak Psikologis Keterbatasan Ekonomi terhadap Kebahagiaan Istri
Ekonomi memang sering kali menjadi penghalang besar bagi kebahagiaan rumah tangga, terutama terkait kebutuhan rekreasi. Saat kamu merasa butuh liburan tapi uang tidak ada, sering kali muncul perasaan rendah diri atau menyalahkan keadaan.
Kamu merasa hidupmu tidak seberuntung orang lain. Ini juga yang menciptakan jarak emosional antara kamu dan suami.
Rasa iri melihat orang lain liburan mewah adalah hal yang manusiawi. Namun jika terus dipupuk, ia akan berubah menjadi kebencian. Kamu mulai memandang rumah sebagai "penjara" dan suami sebagai "penyebab" keterbatasanmu.
Padahal, kebahagiaan batin tidak selalu harus berbanding lurus dengan kemewahan. Namun, kita harus jujur bahwa tanpa uang, pilihan untuk melakukan self-care memang menjadi sangat terbatas.
Di sinilah pentingnya komunikasi yang raw atau apa adanya dengan pasangan. Sering kali, kita memilih diam dan memendam keinginan karena takut dianggap tidak pengertian.
Padahal, menyimpan keinginan liburan sendirian hanya akan menumpuk bom waktu. Mengakui bahwa "Aku lelah dan aku butuh suasana baru" adalah langkah pertama. Inilah yang digunakan untuk melepaskan beban mental, terlepas dari apakah liburan itu bisa terwujud sekarang atau nanti.
Strategi "Healing" Murah Meriah untuk Memulihkan Jiwa
Lalu, bagaimana cara mengatasi burnout IRT saat saldo tidak cukup untuk biaya liburan?
Langkah pertama yang kulakukan, mencari Liburan Mikro
Aku belajar untuk menitipkan anak sejenak pada suami selama satu jam di hari Minggu, lalu aku pergi ke taman kota sendirian.
Sekadar duduk di teras dengan segelas teh tanpa gangguan. Liburan tidak selalu soal lokasi, tapi soal memberikan "ruang" bagi pikiranmu untuk berhenti bekerja.
Kedua, ubah rutinitas yang membelenggu
Jika mencuci piring membuatmu stres, biarkan sejenak dan pergilah berjalan kaki keliling kompleks saat pagi hari. Gerakan fisik dan paparan sinar matahari, terbukti secara ilmiah dapat meningkatkan hormon endorfin dan serotonin yang membantu meredakan stres.
Kamu butuh pergantian pemandangan, meskipun itu hanya sekadar melihat pohon di jalan sebelah.
Ketiga, carilah komunitas atau teman yang senasib.
Berbagi cerita dengan sesama IRT di laman Cerita Manusia ini bisa menjadi terapi yang manjur. Mengetahui bahwa kamu tidak sendirian dalam perjuangan ini akan memberikan kekuatan tambahan.
Terkahir, selalu libatkan Tuhan dalam hidup
Beribadah dan berdoa dengan keyakinanmu, juga berdampak pada aspek kehidupan kita. Ingatlah, kamu adalah jantung dari rumahmu.
Jika jantungmu berhenti berdetak bahagia karena burnout, seluruh rumah akan ikut layu. Mencintai dirimu dengan memberikan waktu istirahat bukanlah egois, melainkan investasi untuk kebahagiaan keluargamu.
Liburan mewah mungkin belum bisa kita jangkau hari ini, tapi ketenangan batin adalah sesuatu yang bisa kita usahakan. Jangan biarkan kondisi ekonomi mencuri kegembiraanmu sebagai seorang ibu dan istri.
Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar bahwa kebahagiaan sejati dimulai dari keberanian untuk mengakui bahwa kita lelah dan butuh jeda. Semangat ya, para pejuang rumah tangga!

Komentar
Posting Komentar