Kenapa Aku Takut Berinteraksi dengan Orang Lain? Luka yang Tak Terlihat
Pernahkah kamu merasa jantungmu berdegup kencang, hanya karena harus membalas sapaan tetangga? Atau merasa ingin menghilang saat berada di keramaian?
Kita sering menyalahkan diri sendiri, menganggap diri kita "aneh" atau "anti-sosial", padahal ketakutan itu mungkin adalah mekanisme perlindungan diri dari luka masa lalu.
Hi, sahabat Cermia? Gimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?
Kita sepakat bahwa rasa takut berinteraksi sering kali bukan karena kita benci orang lain, melainkan karena kita takut disakiti lagi.
Jika hari ini, kamu merasa lelah bersembunyi di balik ponsel atau kamar hanya untuk menghindari manusia, tulisan ini hadir untuk memvalidasi perasaanmu.
Aku berjanji akan menemanimu menelusuri akar rasa takut itu. Aku akan membuka sudut pandang baru, tentang bagaimana cara mulai merasa aman kembali.
Mari kita bedah, mengapa interaksi sosial terasa seperti ancaman, bagi mereka yang pernah dikhianati oleh orang terdekatnya.
Baca judul lain: Cara Menghilangkan Pikiran Negatif? Ini Solusinya
Suara Bentakan dan Keheningan di Meja Makan
Aku punya alasan kuat, kenapa aku tumbuh menjadi orang yang selalu menunduk saat berjalan di depan umum. Masa kecilku bukan berisi tawa, melainkan suara bentakan Bapak yang menggema di seluruh rumah.
Setiap kali aku melakukan kesalahan kecil, Bapak nggak ragu menggunakan kekerasan fisik untuk "mendidikku". Baginya, pukulan adalah bahasa kasih, tapi bagiku. Itu adalah bahasa ketakutan yang merusak harga diriku sejak dini.
Namun, yang paling menghancurkan hatiku bukanlah pukulan Bapak, melainkan reaksi Ibu. Setiap kali aku lari ke arahnya sambil menangis menahan perih, Ibu justru memintaku untuk diam dan memaklumi Bapak.
*Bapakmu itu cuma capek, Nak. Jangan melawan," katanya sambil membelanya. Di saat itu, aku belajar satu hal yang mengerikan: orang yang paling aku cintai pun nggak bisa menjamin keamananku.
Sejak saat itu, dunia luar terasa seperti medan perang. Jika di rumah saja aku bisa disakiti oleh orang tua sendiri, bagaimana dengan orang asing?
Aku mulai menarik diri, takut bicara karena takut salah, dan takut menatap mata orang karena takut melihat amarah yang sama seperti milik Bapak.
Pengkhianatan Ibu membuatku kehilangan kepercayaan pada konsep "hubungan manusia". Bagiku, berinteraksi dengan orang lain berarti membuka peluang untuk disakiti dan diabaikan.
Psikologi Trauma dan Mekanisme Hypervigilance
Dalam dunia psikologi, apa yang aku alami sering kali menyebabkan kondisi yang disebut Hypervigilance atau kewaspadaan berlebih.
Orang yang tumbuh di lingkungan penuh kekerasan domestik, akan memiliki sistem saraf yang selalu dalam mode "siaga satu". Inilah jawaban, kenapa kamu takut berinteraksi dengan orang lain?
Otakmu sedang mencoba melindungimu, dari potensi bahaya yang sebenarnya belum tentu ada.
Kewaspadaan berlebih ini membuat kita sangat sensitif, terhadap perubahan nada bicara, ekspresi wajah, atau gerakan tubuh orang lain.
Sedikit saja ada orang yang meninggikan suara, tubuh kita akan langsung merespons dengan rasa cemas yang hebat atau keinginan untuk kabur.
Ini bukan "lebay", melainkan memori otot dan saraf, yang masih menyimpan trauma masa lalu yang belum terobati.
Selain itu, ketika seorang ibu membela pelaku kekerasan daripada anaknya sendiri, anak akan mengalami apa yang disebut Betrayal Trauma (trauma pengkhianatan).
Efeknya itu kesulitan membangun attachment atau ikatan emosional, dengan orang lain di masa dewasa. Kita menjadi sangat tertutup karena di bawah sadar kita percaya bahwa setiap orang pada akhirnya akan mengecewakan atau meninggalkan kita.
Luka Pengkhianatan Keluarga: Kenapa Kita Menjadi "Introvert Palsu"?
Banyak orang yang didiagnosis memiliki kecemasan sosial, sebenarnya adalah korban dari pola asuh yang nggak sehat.
Kita sering melabeli diri sebagai introvert, padahal sebenarnya kita adalah "introvert yang menyamar" yang terpaksa menarik diri karena rasa takut. Perbedaan antara intovert asli dengan yang menyamar?
Introvert asli, mereka memiliki "baterai sosial" yang terbatas.
Setelah berinteraksi lama, mereka wajib menyendiri untuk memulihkan energi. Kesendirian bagi mereka adalah kebutuhan medis bagi mental, bukan sekadar gaya hidup.
Introvert "menyamar", biasanya mereka menarik diri, karena alasan tren atau suasana hati sesaat.
Mereka mungkin mengaku introvert, tapi sebenarnya merasa kesepian atau bosan jika sendirian terlalu lama. Mereka sering kali tetap mencari validasi atau interaksi di media sosial secara intens meskipun mengaku "sedang ingin sendiri".
Saat keluarga yang seharusnya menjadi pelabuhan, justru menjadi sumber badai. Kita kehilangan kepercayaan dasar (basic trust) terhadap dunia sosial.
Pengalaman melihat Ibu yang selalu membela Bapak, meskipun aku disakiti menciptakan pola pikir lain. Pikiran bahwa pendapat dan perasaanku nggak berharga.
Hal ini terbawa hingga dewasa, di mana aku merasa bahwa nggak ada gunanya bicara karena nggak akan ada yang mendengar atau membelaku.
Inilah alasan kenapa berinteraksi dengan orang lain terasa sangat melelahkan. Kita terlalu sibuk, memikirkan cara agar nggak terlihat salah di mata mereka.
Trauma masa lalu ini, membuat kita sering melakukan self-sabotage atau menyabotase hubungan baik yang baru mulai tumbuh. Kita cenderung menjauh saat orang lain mulai mendekat, bukan karena kita nggak butuh teman.
Namun, karena kita takut jika mereka mengenal kita lebih jauh, mereka akan melakukan hal yang sama seperti yang Bapak dan Ibu lakukan. Kita lebih memilih kesepian daripada risiko dihancurkan lagi.
Belajar Merasa Aman dalam Hubungan Sosial
Lalu, bagaimana cara mulai berinteraksi lagi tanpa harus merasa terancam?
Langkah pertama, yang harus aku lalui adalah reparenting.
Belajar menjadi orang tua bagi diriku sendiri. Aku harus meyakinkan "anak kecil" di dalam diriku, bahwa sekarang aku sudah dewasa.
Aku mampu melindungi diriku sendiri. Aku harus belajar bahwa, nggak semua orang adalah duplikat dari orang tuaku.
Mulailah dengan interaksi mikro
Kamu nggak perlu langsung pergi ke pesta besar. Cobalah untuk sekadar tersenyum pada penjual kopi atau membalas pesan singkat teman.
Berikan bukti pada otakmu bahwa dunia nggak sekejam yang kamu bayangkan di kamar. Setiap interaksi kecil yang berjalan baik adalah obat untuk menyembuhkan sistem sarafmu yang selama ini selalu tegang.
Cari lingkungan yang aman atau safe space
Aku menemukan pemulihan saat mulai bercerita pada orang yang tepat, bisa sahabat yang sangat empatik atau psikolog profesional. Di sana, aku belajar bahwa perasaanku valid dan aku layak dibela.
Belajar memaafkan diri sendiri atas rasa takut.
Ini juga kunci, untuk perlahan-lahan membuka pintu keluar dari "gua" isolasi yang kita bangun.
Dunia mungkin pernah terasa sangat nggak aman bagimu, dan rumah mungkin pernah menjadi tempat yang paling menakutkan.
Namun, ingatlah bahwa kamu bukan lagi anak kecil yang nggak berdaya itu. Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar bahwa meski luka itu dalam, kita masih punya hak untuk membangun koneksi baru yang sehat.
Kamu berhak untuk dilihat, didengar. Kamu berhak merasa aman di antara manusia lainnya.
Baca judul lain: Efek Sering Pura-Pura Bahagia? Ini Wajib Dihindari
Gimana sahabat Cermia? Pernah ngalamin hal yang sama? Ceritain ya pengalamannmu di kolom komentar.

Komentar
Posting Komentar