Cara Mengatasi Rasa Hampa di Hati? Saat Merasa Kehilangan



Banyak dari kita pernah merasakan sebuah ruang kosong yang tiba-tiba muncul di tengah dada, sebuah kehampaan yang membuat dunia yang bising terasa sangat sunyi. 

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?

Kita sepakat bahwa kehilangan seseorang yang kita cintai bukan hanya tentang air mata, tapi tentang bagaimana kita belajar hidup dengan "lubang" yang ditinggalkannya.

​Jika saat ini kamu merasa hampa karena ditinggalkan, tulisan ini akan membantumu menavigasi perasaan tersebut agar nggak tenggelam terlalu dalam. 

Kita akan membedah secara psikologis, mengapa rasa hampa itu muncul? Bagaimana langkah demi langkah, untuk mulai mengisi kembali ruang kosong tersebut dengan kedamaian.

​Sebuah Kursi Kosong dan Janji yang Terputus

​Beberapa tahun lalu, duniaku runtuh dalam satu panggilan telepon. Mantan kekasihku, seseorang yang bersamaku merancang masa depan, meninggal dunia secara tiba-tiba. 

Di usia yang masih sangat muda, aku dipaksa berhadapan dengan konsep kematian yang begitu nyata. Hari-hari setelah pemakamannya bukan hanya berisi kesedihan, tapi kehampaan yang luar biasa.

​Aku ingat duduk di kafe tempat kami biasa bertemu, menatap kursi kosong di depanku, dan merasakan hampa yang mencekat. Rasanya seperti ada bagian dari jiwaku yang ikut terkubur bersamanya.

Aku sering bertanya-tanya, "Bagaimana caranya lanjut berjalan kalau separuh kakiku hilang?" Kehampaan itu membuatku kehilangan minat pada hobiku, bahkan nafsu makan pun hilang.

​Rumah terasa lebih luas dan sepi, meskipun ada keluarga di sekitarku. Aku merasa seperti robot; bangun, mandi, sekolah, lalu pulang, namun tanpa nyawa di dalamnya. 

Kehampaan ini jauh lebih menakutkan daripada tangisan, karena rasa hampa berarti kita nggak merasakan apa-apa lagi. Sebuah kekosongan yang ingin segera kita isi namun nggak tahu dengan apa.

Baca opini yang serupa: Kenapa Aku Takut Berinteraksi Dengan Orang Lain? Ini Solusinya

​Memahami Anatomi Kehampaan Setelah Kehilangan

​Secara psikologis, rasa hampa setelah ditinggal meninggal dunia sering disebut sebagai bagian dari complicated grief. Kehampaan ini muncul karena otak kita kehilangan "objek keterikatan" yang biasanya memberikan rasa aman dan hormon kebahagiaan (seperti dopamin dan oksitosin). 

Ketika objek itu hilang secara permanen, otak kita mengalami semacam "konslet" emosional.

​Kehampaan bukan berarti kamu nggak punya perasaan, melainkan bentuk pertahanan diri (mekanisme koping) otakmu agar nggak hancur oleh rasa sakit yang terlalu besar. 

Otak mematikan sementara emosi-emosi lain agar kamu bisa bertahan hidup secara fisik. Namun, jika dibiarkan terlalu lama tanpa diproses, kehampaan ini bisa menjadi depresi yang lebih dalam.

​Dalam psikologi, kehilangan pasangan, apalagi di usia muda, sering kali merusak identitas diri. Kita terbiasa mendefinisikan diri kita sebagai "pasangan si A" atau "kita". Saat "kita" hilang, identitas diri kita pun ikut lompong. 

Inilah sebabnya mengapa cara mengatasi rasa hampa di hati harus dimulai dengan membangun kembali hubungan dengan diri sendiri secara perlahan.

​Melepaskan Rasa Bersalah yang Membelenggu

​Seringkali, di balik rasa hampa, ada rasa bersalah yang tersembunyi. Kita merasa nggak berhak untuk bahagia lagi, atau kita merasa bersalah karena kita masih hidup sementara dia sudah nggak ada (survivor’s guilt).

Pikiran-pikiran seperti "Andai dulu aku lebih sering menemaninya" atau "Kenapa harus dia?" terus berputar seperti kaset rusak yang memperlebar lubang kehampaan tersebut.

​Melepaskan rasa bersalah adalah kunci krusial dalam pemulihan. Kamu harus menyadari bahwa kematian adalah satu-satunya variabel hidup yang berada di luar kendali manusia. 

Menghukum diri sendiri dengan tetap merasa hampa nggak akan membawa orang yang dicintai kembali, namun justru akan menyia-nyiakan kehidupan yang masih kamu miliki.

​Cobalah untuk mengubah narasi di kepalamu. Daripada berfokus pada "kehampaan karena ia pergi", cobalah pelan-pelan bergeser ke arah "kekayaan karena ia pernah ada dalam hidupku". Kehilangan itu nyata, tapi cinta yang pernah kalian bagi juga nyata. 

Menghargai kenangan tersebut dengan cara menjadi versi dirimu yang lebih baik adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi mereka yang sudah mendahului kita.

​Langkah Kecil Mengisi Kembali Ruang yang Kosong

​Mengatasi rasa hampa nggak bisa dilakukan dengan "lompatan" besar; ia membutuhkan langkah-langkah mikro setiap harinya. Kamu nggak perlu memaksa dirimu untuk langsung ceria. 

Langkah pertama adalah dengan validasi. Katakan pada dirimu sendiri.

"Wajar jika aku merasa kosong hari ini. Ini adalah bagian dari proses mencintai yang harus dibayar dengan kehilangan."

​Kedua, mulailah mencari "anchor" atau jangkar dalam aktivitas sehari-hari. 

Jika sebelumnya seluruh duniamu berputar di sekitar pasangan, kini kamu harus menemukan hobi baru atau komunitas baru yang murni milikmu sendiri. 

Ini bukan berarti melupakan dia, tapi ini adalah upaya untuk memberikan "warna" baru pada dinding jiwamu yang saat ini sedang pucat pasi.

​Ketiga, jangan takut untuk mencari bantuan profesional.

Jika kehampaan tersebut mulai mengganggu fungsionalitas hidupmu. Psikolog bisa membantumu melakukan re-framing terhadap trauma kehilangan tersebut. 

Terkadang, kita butuh orang lain untuk memegang senter saat kita sedang berada di dalam gua yang gelap dan hampa.

​Terakhir, percayalah bahwa waktu memang nggak bisa menghapus lubang di hati.

Namun Tuhan dengan caraNya akan menumbuhkan taman di sekitar lubang tersebut. 

Suatu hari nanti, kamu akan melihat ke dalam hatimu dan menyadari bahwa lubang itu masih ada, namun ia nggak lagi membuatmu terjatuh. Kamu telah belajar untuk berjalan melewatinya dengan penuh kebijaksanaan.

​Kehampaan adalah ruang tunggu sebelum kamu menemukan makna baru dalam hidup. Jangan terburu-buru keluar, tapi jangan juga memutuskan untuk menetap selamanya di sana. Kamu masih punya banyak cerita manusia yang layak ditulis di lembaran-lembaran berikutnya.

Baca opini yang serupa: Efek Sering Pura-Pura Bahagia? Ini yang Harus Dihindari

Bagaimana menurut sahabat Cermia? Pernah mengalami hal yang sama? Coba kamu ceritain di kolom komentar ya. 


Komentar