​Kenapa Aku Merasa Sedih Tanpa Alasan yang Jelas? Mungkin Ini Alasannya.

 


​Banyak dari kita sering terbangun dengan perasaan yang berat, seolah ada mendung yang menggantung tepat di atas kepala, padahal langit di luar sedang sangat cerah. 

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga baik-baik saja ya? 

Kita mencoba mencari alasan; apakah karena nilai ujian? Apakah karena teman? Namun, seringkali jawabannya adalah "nggak tahu".

​Jika kamu pernah berada di titik ini, kamu nggak sendirian. Aku akan membantu kamu memahami mengapa perasaan sedih ini muncul dan bagaimana cara menghadapinya dengan lebih tenang. 

Mari kita bedah mengapa rasa sedih yang "nggak beralasan" ini sebenarnya adalah cara tubuhmu berbicara kepadamu.

​Bayang-Bayang di Kamar Sore Hari

​Sebagai seorang siswi SMA, hidupku terlihat "baik-baik saja" di mata orang lain. Aku nggak sedang patah hati, dan nilai fisikaku pun nggak merah-merah amat. Namun, setiap kali pulang sekolah dan masuk ke kamar, suasana berubah. 

Aku sering merasa suntuk yang luar biasa saat menatap dinding kamar yang itu-itu saja.

​Ada momen di mana aku hanya duduk di tepi tempat tidur, memandangi seragam yang tersampir, dan tiba-tiba air mata menetes begitu saja. 

Ibu sering mengetuk pintu, bertanya apakah aku lapar atau ada masalah di sekolah. Aku hanya bisa menjawab, "Enggak apa-apa, Bu, cuma capek." Padahal, di dalam hati, aku pun bingung menjelaskan apa yang sedang aku tangisi.

​Rasa sedih ini nggak seperti luka jatuh dari motor yang jelas di mana perihnya. Ini lebih seperti kabut tipis yang pelan-pelan menutupi seluruh motivasiku. 

Aku ingin mengerjakan tugas, tapi rasanya berat. Aku ingin membalas chat teman, tapi jempolku terasa kaku. Aku merasa bersalah karena sedih, padahal aku merasa nggak punya hak untuk sedih seperti ini.

Baca opini serupa: Cara Mengatasi Hampa Di Hati? Ini Yang Harus Dilakukan

​Saat Tubuh dan Jiwa Mencapai Titik Jenuh

​Pernahkah kamu berpikir bahwa rasa sedihmu mungkin bukan karena ada kejadian buruk, melainkan karena terlalu banyak "kejadian biasa" yang kamu tumpuk sendirian? 

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan akumulasi stres kecil yang nggak pernah dirayakan atau dilepaskan.

​Sebagai siswa, kita dituntut untuk selalu "on". Di sekolah harus terlihat ceria, di media sosial harus terlihat seru, dan di rumah harus menjadi anak yang penurut. 

Tekanan untuk selalu tampil sempurna ini secara perlahan menguras energi mental kita, hingga kering tanpa kita sadari.

​Rasa suntuk di rumah, sering kali merupakan tanda bahwa rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat, justru menjadi saksi bisu di mana kita melepaskan semua topeng kelelahan kita.

Ketika topeng itu lepas, yang tersisa hanyalah rasa lelah yang sangat dalam, yang kemudian kita terjemahkan sebagai kesedihan tanpa alasan.

​Selain itu, perubahan hormon pada masa remaja juga memegang peran besar. Otak kita sedang dalam masa transisi yang hebat, membuat emosi menjadi sangat sensitif. 

Jadi, terkadang sedih itu murni reaksi kimia di otak yang sedang mencoba menyeimbangkan dirinya kembali di tengah hiruk-pikuk tugas sekolah.

​Jebakan Toxic Positivity dan Rasa Bersalah

​Salah satu alasan mengapa sedih tanpa sebab terasa sangat menyiksa adalah karena kita sering menghakimi diri sendiri. "Kenapa sih aku sedih? 

Padahal orang lain lebih susah." Kalimat ini adalah racun yang membuat kesedihan kita justru bertahan lebih lama di dalam dada.

​Kita hidup di dunia yang menuntut kita untuk selalu positif. Saat kita diam dan merenung, lingkungan atau bahkan pikiran kita sendiri sering menganggap itu sebagai kelemahan. 

Kita merasa harus selalu produktif, sehingga saat kita "hanya" ingin merasa sedih, kita merasa sedang membuang-buang waktu.

​Padahal, emosi adalah sinyal. Seperti lampu indikator bensin di motor, rasa sedih adalah tanda bahwa ada "bahan bakar" emosional yang perlu diisi ulang. 

Memaksa diri untuk tersenyum saat hati sedang layu hanya akan membuat retakan di dalam jiwa semakin besar, seperti topeng kintsugi yang retak namun dipaksakan tetap utuh.

​Menerima bahwa "hari ini aku sedang nggak baik-baik saja" adalah langkah pertama untuk sembuh. Kamu nggak butuh alasan besar untuk merasa sedih.

Perasaanmu valid hanya karena kamu merasakannya, bukan karena ada drama besar yang mendahuluinya. Berhentilah membandingkan lukamu dengan luka orang lain.

​Menemukan Jalan Pulang Menuju Diri Sendiri

​Lalu, apa yang harus dilakukan saat rasa suntuk itu datang menyerang lagi di sore hari? Jangan dilawan. Jika kamu ingin menangis, menangislah. Jika kamu ingin diam, diamlah. 

Namun, jangan biarkan dirimu tenggelam terlalu lama dalam diam yang destruktif tanpa melakukan upaya kecil untuk bergerak.

​Mulailah dengan hal-hal sederhana yang mengembalikan koneksi dengan tubuhmu

Cobalah untuk sekadar membuka jendela kamar, membiarkan udara segar masuk, atau menyeduh teh hangat. 

Tindakan fisik kecil ini mengirimkan sinyal ke otak bahwa kamu masih memiliki kendali atas lingkungan sekitarmu, sekecil apa pun itu.

​Menulis juga bisa menjadi obat yang sangat manjur

Ambil sebuah buku catatan, dan tuliskan apa saja yang muncul di kepala, meskipun itu hanya kata-kata acak atau coretan nggak jelas.

Seringkali, saat pena bergerak, alasan-alasan tersembunyi yang selama ini terkubur di bawah sadar mulai muncul ke permukaan.

​Terakhir, jangan ragu untuk berbagi dan berdoa pada Tuhan

Cerita manusia nggak seharusnya disimpan sendirian. Jika bercerita pada orang terdekat terasa terlalu berat, mulailah dengan berbisik pada dirimu sendiri di depan cermin: "Terima kasih sudah bertahan sampai hari ini. Besok, kita coba lagi pelan-pelan."

​Kesedihan tanpa alasan bukanlah tanda bahwa kamu rusak. Itu adalah tanda bahwa kamu manusia. Di balik rasa suntuk dan air mata di kamar itu, ada jiwa yang sedang rindu untuk diperhatikan oleh pemiliknya sendiri. 

Kamu berharga, meski sedang nggak melakukan apa-apa, dan meski sedang nggak memiliki tawa untuk dibagikan.

Baca opini yang serupa: Kenapa Aku Takut Berinteraksi? Ini Yang Belum Kamu Tahu

Gimana kamu pernah mengalami kejadian seperti ini? Ceritain ya dikolom komentar. 


Komentar