​Efek Sering Pura-Pura Bahagia bagi Psikologi? Senyum Jadi Beban


Banyak dari kita yang merasa bahwa menyembunyikan kesedihan, adalah cara terbaik untuk
menjaga perasaan orang-orang di sekitar kita. Kamu mungkin sering memakai "topeng" keceriaan di depan orang tua, teman, atau media sosial. 

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?

Namun padahal di dalam hati, jiwamu sedang berteriak minta tolong. Kita sepakat bahwa berpura-pura baik-baik saja, jauh lebih melelahkan daripada mengakui bahwa kita sedang hancur.

​Jika hari ini kamu merasa lelah, karena harus selalu terlihat bahagia, tulisan ini hadir untuk merangkulmu. Aku berjanji, akan membantumu memahami, mengapa menekan emosi justru akan merusak kesehatan mentalmu dalam jangka panjang? 

Mari kita bedah bagaimana kejujuran emosional bisa menyelamatkanmu, belajar dari sebuah kesalahan besar di masa laluku tentang pernikahan dan ekspektasi.

​Terjebak dalam Pelaminan yang Tak Diinginkan

​Dulu, aku percaya bahwa kebahagiaan orang tua adalah segalanya, bahkan jika itu harus mengorbankan nyawaku sendiri. Aku dipaksa menikah, dijodohkan dengan seseorang yang sama sekali nggak kucintai. 

Demi menjaga nama baik keluarga. Demi senyum di wajah Ibu, aku mengangguk. Aku memakai gaun pengantin yang megah, tersenyum pada ribuan tamu, padahal di balik riasan tebal itu, aku merasa sedang merayakan kematian kebebasanku.

​Selama bertahun-tahun, aku menjadi aktor terbaik dalam hidupku sendiri. Aku berpura-pura menjadi istri yang bahagia. Aku memposting foto keluarga yang harmonis, dan meyakinkan dunia bahwa pilihanku benar. 

Namun, kepura-puraan itu ada harganya. Tidurku nggak pernah nyenyak, makanku nggak pernah nikmat, dan perlahan aku merasa kehilangan identitas. Aku nggak lagi tahu siapa diriku jika topeng "bahagia" itu dilepas.

​Puncaknya adalah ketika aku menyadari bahwa kepura-puraanku memakan korban paling berharga: anakku. Anak memiliki radar emosional yang tajam; dia melihat keretakan di balik senyumku. 

Dia tumbuh dalam rumah yang penuh dengan "dingin yang dipaksakan", hingga akhirnya dia jatuh dalam depresi berat di usia yang sangat belia. 

Saat itulah aku sadar, kepura-puraanku bukan menyelamatkan keluarga, tapi justru menghancurkan masa depan darah dagingku sendiri.

Baca opini yang serupa: Cara Menghilangkan Pikiran Negatif? Ini Caranya

​Bahaya "Smiling Depression" dan Kelelahan Emosional

​Dalam psikologi, kondisi yang aku alami sering disebut sebagai Smiling Depression. Ini adalah situasi di mana seseorang tampak sukses dan bahagia di luar. Namun mengalami gejala depresi yang berat di dalam. 

Bahaya utama dari kondisi ini adalah orang-orang di sekitarmu nggak akan memberikan bantuan. Karena mereka mengira kamu baik-baik saja. Sementara beban di pundakmu semakin berat setiap harinya.

​Efek sering pura-pura bahagia bagi psikologi, akan memicu apa yang disebut dengan Emotional Exhaustion atau kelelahan emosional. Otak kita dipaksa untuk terus-menerus memproduksi ekspresi yang nggak sinkron dengan perasaan asli. 

Hal ini menciptakan konflik internal yang luar biasa. Akibatnya, sistem imun tubuh bisa menurun, kita mudah marah tanpa sebab, dan perasaan hampa akan semakin mendominasi hidup kita.

​Ketika kita menekan emosi negatif, emosi tersebut nggak hilang; mereka justru mengendap dan "membusuk" di dalam bawah sadar. 

Endapan ini nantinya bisa meledak dalam bentuk gangguan kecemasan (anxiety) atau penyakit psikosomatis. 

Percayalah, tubuhmu nggak bisa berbohong selamanya. Jika mulutmu terus memaksakan senyum, matamu atau kesehatan fisikmu yang akan menceritakan kebenarannya.

​Dampak Psikologis pada Anak yang Melihat "Topeng" Orang Tua

​Satu hal yang paling kusesali adalah dampak jangka panjang pada anakku. Kita sering mengira bahwa dengan tetap bertahan dalam pernikahan yang nggak bahagia demi anak, kita sedang melindunginya. 

Faktanya, anak-anak belajar tentang emosi dan hubungan dari orang tuanya. Ketika mereka melihat orang tuanya sering berpura-pura bahagia. Mereka akan tumbuh dengan keraguan terhadap kejujuran emosional mereka sendiri.

​Anak yang dibesarkan dalam lingkungan penuh kepura-puraan, berisiko tinggi mengalami kebingungan identitas. Selain itu, kesulitan membangun trust atau kepercayaan pada orang lain. 

Mereka melihat bahwa kasih sayang adalah sesuatu yang harus dipaksakan atau "diperankan". Dalam kasusku, anakku merasa bahwa kesedihan adalah aib yang harus disembunyikan. 

Hingga akhirnya dia menutup diri dan jatuh ke jurang depresi yang sangat dalam. Perceraian memang menyakitkan (hanya sebagai opsi terkahir - paling darurat), tapi hidup dalam kebohongan yang berkepanjangan, jauh lebih merusak jiwa anak. 

Anak lebih butuh orang tua yang jujur dengan perasaannya, daripada orang tua yang bersama namun jiwanya mati. Luka perceraian bisa disembuhkan dengan waktu dan perhatian, namun trauma akibat dibesarkan dalam kepura-puraan akan membekas seumur hidup dalam cara mereka memandang cinta.

Note: perceraian adalah opsi terkahir yang sifatnya darurat, bukan solusi praktis. Lakukan banyak hal untuk menolong hubungan bukan mematikan hubungannya (ibarat kuku dipotong kuku yang panjang bukan dicabut). 

​Menjemput Kejujuran: Cara Melepaskan Beban Pura-Pura

​Bagaimana cara memulai hidup yang jujur setelah sekian lama bersembunyi? 

Langkah pertama yang kuambil adalah mengakui kegagalan. 

Aku akhirnya memilih untuk bercerai, meskipun itu berarti aku harus menghadapi cemoohan dari keluarga besar. 

Mengakui bahwa "pernikahan ini adalah kesalahan" adalah momen paling membebaskan dalam hidupku. Aku berhenti menipu diri sendiri, dan di saat itulah proses penyembuhan dimulai.

​Kamu harus memberikan izin pada dirimu untuk merasa sedih, marah, atau kecewa.

Emosi negatif bukanlah musuh; mereka adalah kompas yang menunjukkan bahwa ada sesuatu dalam hidupmu yang perlu diperbaiki. 

Mulailah dengan jujur pada satu orang yang paling kamu percayai, atau jika itu terlalu berat, mulailah dengan jujur pada sebuah buku catatan. Tuliskan semua beban yang selama ini kamu sembunyikan di balik senyumanmu.

​Langkah terakhir, memulihkan hubungan dengan orang-orang yang ikut terdampak oleh kepura-puraanmu. 

Aku fokus mendampingi anakku dalam terapinya, meminta maaf secara terbuka kepadanya bahwa aku nggak cukup jujur selama ini. 

Kami belajar bersama untuk menangis jika sedih dan tertawa jika benar-benar bahagia. Hidup mungkin nggak lagi "sempurna" di mata orang lain, tapi senggaknya sekarang hidupku terasa nyata.

​Melepaskan topeng kebahagiaan memang menakutkan, karena kamu mungkin akan kehilangan pengakuan dari orang lain.

Namun, apa gunanya diakui dunia jika kamu kehilangan dirimu sendiri? Di laman Cerita Manusia ini, mari kita sepakat bahwa menjadi "nggak baik-baik saja", adalah awal dari keberanian yang sesungguhnya. Kamu berhak bahagia tanpa perlu berpura-pura.

Baca opini yang serupa: Perbedaan Stres dan Gangguan Kecemasan? Ini Wajib Diketahui

Bagaimana menurut sahabat Cermia? Bagikan cerita hidupmu juga ya di kolom komentar? 

Komentar