Tanda-Tanda Mental Health Sedang Terganggu? Cara Mengatasinya

 

Ilustrasi surealis pasangan duduk berjauhan di meja makan dengan simbol beban emosional seperti sangkar burung, jam pasir, dan ekspresi kesedihan yang menggambarkan konflik internal dan isolasi dalam hubungan.

​Pernahkah kamu merasa hari-harimu belakangan ini terasa sangat berat. Saat di mana, hal-hal kecil saja bisa membuatmu ingin meledak atau menangis seharian?

Kita sering menganggap rasa lelah dan emosi yang tidak stabil hanyalah akibat kurang tidur. 

Namun nyatanya, itu bisa jadi itu adalah sinyal darurat dari jiwamu. Kita sepakat mengakui kondisi mental yang sedang menurun, jauh lebih sulit daripada mengobati luka fisik yang terlihat jelas.

​Jika belakangan ini kamu merasa sering kehilangan kendali atas emosimu, terutama saat berhadapan dengan orang tersayang.

Opini ini hadir untuk membantumu berhenti sejenak. Aku berjanji akan membantumu, mengenali tanda-tanda mental health sedang terganggu sebelum semuanya menjadi semakin larut. 

Mari kita bedah bagaimana konflik yang terus-menerus terjadi bisa menjadi alarm bagi kesehatan mental kita. Belajar bersama dari pengalaman yang hampir kehilangan segalanya, karena ego yang rapuh.

Baca judul lain: Kenapa Hidup Terasa Hampa? Ini Alasannya

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga semuanya baik-baik saja ya. 

​Piring yang Pecah dan Suara yang Meninggi

​Aku pernah berada di sebuah fase di mana pertengkaran dengan pasangan menjadi "menu harian" di meja makan kami. Awalnya, aku menyalahkan dia. Aku merasa dia tidak mengerti aku, dia terlalu menuntut, atau dia selalu memancing emosiku. 

Setiap hari ada saja hal yang memicu perdebatan hebat. Mulai dari masalah sepele seperti lupa mencuci piring. Hingga masalah prinsip yang sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik.

​Aku ingat satu malam di mana kami bertengkar hebat hanya karena masalah kecil. Suaraku melengking tinggi, kata-kata kasar keluar tanpa filter. Akhirnya aku membanting sebuah piring hingga hancur berkeping-keping. 

Di tengah napas yang memburu dan air mata yang mengalir, aku melihat ketakutan di mata pasanganku. Detik itu, aku menyadari bahwa yang sedang berteriak bukanlah aku yang sebenarnya, melainkan "luka" di dalam diriku yang sedang meronta-ronta.

​Aku menyadari saat aku sering berantem bukan karena dia jahat, tapi karena kapasitas mentalku sudah habis. Aku sedang stres berat, merasa hampa dengan pekerjaanku, dan membawa trauma masa lalu yang belum sembuh ke dalam hubungan kami. 

Hubunganku menjadi "tong sampah" bagi semua emosi negatif yang tidak tahu cara kuproses. Pertengkaran itu hanyalah gejala. Penyakit aslinya adalah kesehatan mentalku yang sudah lama terabaikan.

​Memahami Hubungan Antara Emosi Meledak dan Kesehatan Mental

​Banyak orang tidak menyadari bahwa tanda-tanda mental health sedang terganggu, sering kali muncul dalam bentuk iritabilitas atau mudah marah. Dalam psikologi, ketika seseorang mengalami depresi atau kecemasan yang terpendam, ambang toleransi terhadap stres akan menurun drastis. 

Hal-hal yang biasanya dianggap biasa saja. Kini terasa seperti serangan pribadi yang harus dibalas dengan kemarahan.

​Sering berantem dengan pasangan bisa menjadi tanda bahwa kamu sedang mengalami emotional burnout. Kamu merasa tidak punya lagi sisa energi untuk bersabar atau berempati. 

Alih-alih mencari solusi, otakmu secara otomatis masuk ke mode survival (lawan atau lari). Saat dalam hubungan sering kali bermanifestasi sebagai konflik verbal yang destruktif.

​Selain mudah marah, tanda lainnya adalah perasaan mati rasa secara emosional (emotional numbness). Kamu mungkin merasa tidak peduli lagi jika pasanganmu menangis atau jika hubunganmu terancam berakhir. 

Kehilangan kemampuan untuk merasa dan berempati. Ini adalah sinyal kuat bahwa jiwamu sedang mencoba "mematikan sistem". Agar tidak merasakan sakit yang lebih dalam lagi.

​Kenapa Kita Melampiaskan Beban Mental pada Pasangan?

​Kenapa pasangan sering kali menjadi korban pertama saat mental kita terganggu? Secara psikologis, ini terjadi karena pasangan adalah orang yang paling dekat dan paling "aman" untuk kita jadikan pelampiasan. 

Di luar sana, kita harus memakai topeng profesional dan ramah. Namun di rumah, semua topeng itu lepas. Sayangnya, yang terlepas bukan hanya topeng, tapi juga semua emosi tertahan yang kita kumpulkan sepanjang hari.

​Konflik yang berulang juga bisa dipicu oleh Projection atau proyeksi. Kita memproyeksikan rasa benci pada diri sendiri atau kegagalan kita kepada pasangan. Misalnya, karena aku merasa tidak becus di kantor. 

Aku mulai menuduh pasanganku tidak menghargaiku. Padahal, sebenarnya akulah yang sedang tidak menghargai diriku sendiri. Tanpa kesehatan mental yang baik, kita sulit melihat realitas secara objektif.

​Dampak dari mengabaikan tanda-tanda ini sangat fatal. Hubungan yang seharusnya menjadi tempat pemulihan justru berubah menjadi sumber trauma baru. 

Jika kamu merasa hubunganmu penuh dengan ketegangan yang tidak sehat, coba tanyakan pada dirimu sendiri: 

"Apakah ini masalah kami, atau sebenarnya ini adalah masalahku yang kubawa ke dalam hubungan ini?" Kejujuran ini adalah pintu pertama, menuju pemulihan kesehatan mentalmu.

​Langkah Memperbaiki Mentalitas dan Memulihkan Relasi

​Lalu, apa yang harus dilakukan. Jika kamu sudah menyadari bahwa kesehatan mentalmu terganggu? 

Langkah pertama yang kulakukan, melakukan Emotional Inventory

Aku mulai mencatat kapan emosiku meledak dan apa pemicu aslinya. Dengan menulis, aku bisa melihat pola. 

Saat dimana pertengkaranku dengan pasangan biasanya terjadi. Saat aku sedang merasa sangat tidak berdaya di bidang kehidupan yang lain.

​Kedua, komunikasikan kondisimu dengan jujur kepada pasangan tanpa mencari pembelaan

Katakan padanya: "Aku minta maaf karena akhir-akhir ini sering marah. Sebenarnya aku sedang merasa tidak baik-baik saja dan kesehatan mentalku sedang menurun. Aku butuh bantuanmu, bukan pertengkaran." 

Kata-kata jujur seperti ini bisa meruntuhkan tembok pertahanan dan mengubah pertengkaran menjadi dukungan bersama.

​Terakhir, jangan ragu untuk mengambil jeda (time-out) secara sadar dengan berdoa dan beribadah

Jika kamu merasa emosi mulai naik, menyingkirlah sejenak untuk bernapas dan menenangkan sarafmu. Kamu bisa melakukan ibadah, berdoa atau juga bisa mencari hiburan versimu. 

Mencari bantuan profesional seperti psikolog bukan hanya untuk menyelamatkan jiwamu. Namun, juga untuk menyelamatkan hubungan yang kamu cintai. 

Ingat, kamu tidak bisa mencintai orang lain dengan sehat jika kamu sendiri sedang "berdarah" di dalam hati.

​Mengenali mental sedang tidak baik-baik saja, adalah tindakan paling berani yang pernah kulakukan. Aku belajar bahwa piring yang pecah bisa diganti. 

Baca judul lain: Merasa Gagal Dalam Hidup? Ini Langkah Tepat Mengatasinya

Namun, waktu dan kasih sayang yang terbuang, karena ego yang terluka jauh lebih sulit untuk dikembalikan. Di laman Cerita Manusia ini, mari kita belajar untuk lebih lembut pada diri sendiri, agar kita bisa lebih lembut pada mereka yang mencintai kita.


Komentar