Ciri-Ciri Depresi Ringan pada Remaja? Ini Yang Wajib Diketahui
Banyak dari kita sering merasa bahwa menjadi remaja adalah fase yang membingungkan. Ada di satu sisi kita dituntut dewasa, namun di sisi lain kita merasa nggak punya kendali atas hidup sendiri.
Hi, sahabat Cermia. Gimana kabarmu? Baik-baik saja kan ya?
Kamu mungkin sering merasa lelah yang luar biasa, sedih tanpa sebab, atau kehilangan minat pada hal-hal yang dulu kamu sukai, lalu bertanya-tanya: "Apakah aku hanya malas, atau ada sesuatu yang salah di dalam jiwaku?"
Jika kamu merasakan beban yang nggak kasat mata itu, tulisan ini adalah pelukan virtual untukmu. Aku berjanji, setelah membaca ini, kamu akan mendapatkan pemahaman yang lebih jernih tentang apa yang sedang kamu alami tanpa perlu merasa dihakimi.
Kita akan membedah ciri-ciri depresi ringan secara psikologis. Bagaimana pengalaman pahit masa lalu, bisa membentuk lubang di hati kita.
Panti Asuhan, Perceraian, dan Rasa Dibuang
Aku tahu persis rasanya saat dunia seolah runtuh sebelum kita sempat membangunnya. Beberapa tahun lalu, duniaku hancur ketika orang tuaku memutuskan untuk bercerai. Kehancuran itu nggak berhenti di sana.
Mereka memilih untuk menikah lagi dengan pasangan baru masing-masing. Entah bagaimana, aku menjadi "barang" yang nggak muat di kehidupan baru mereka.
Aku dititipkan, atau lebih tepatnya, ditelantarkan ke sebuah panti asuhan. Rasanya sangat perih.
Bayangkan, orang yang seharusnya menjadi pelindung utamamu, justru menjadi orang pertama yang membiarkanmu kedinginan sendirian. Di dalam gedung panti yang penuh sesak itu, aku mulai kehilangan diriku.
Aku nggak menangis histeris setiap hari, itu yang membuatku tertipu. Aku marah, kecewa dan frustasi dalam diam.
Aku hanya merasa "kosong". Aku masih sekolah, masih makan, tapi rasanya seperti sedang menonton film tentang hidupku sendiri dari jauh.
Aku nggak lagi tertarik ikut latihan basket, padahal dulu itu adalah napas hidupku. Inilah titik awal aku menyadari bahwa depresi nggak selalu berarti menangis di pojok kamar. Terkadang ia adalah rasa hampa yang membeku.
Baca opini yang serupa: Tanda-Tanda Mental Health Terganggu? Ini Harus Diketahui
Mengenali "Distimia": Depresi yang Bersembunyi di Balik Keseharian
Dalam dunia psikologi, apa yang banyak remaja alami sering disebut sebagai Distimia atau gangguan depresif persisten.
Ini adalah jenis depresi ringan namun berlangsung lama. Cirinya bukan ledakan kesedihan besar, melainkan rasa suntuk yang menetap selama berbulan-bulan, seolah ada mendung tipis yang nggak pernah beranjak dari atas kepalamu.
Ciri pertama yang paling sering muncul, perubahan pola tidur dan makan yang nggak menentu.
Ada malam-malam di mana aku terjaga sampai subuh, hanya untuk menatap langit-langit panti asuhan. Ada hari-hari di mana aku ingin tidur selama 14 jam, hanya agar nggak perlu menghadapi kenyataan.
Ciri kedua, selain itu, kamu mungkin merasa sangat sulit untuk berkonsentrasi.
Tugas sekolah yang biasanya selesai dalam satu jam, kini terasa seperti mendaki gunung yang sangat tinggi. Pikiranmu sering melayang, merasa nggak berharga, dan mulai menarik diri dari teman-teman karena merasa nggak ada gunanya bersosialisasi.
Dampak Trauma Keluarga terhadap Kesehatan Mental Remaja
Mengapa remaja seperti kita lebih rentan terkena depresi ringan? Pengalamanku di panti asuhan mengajarkanku bahwa kesehatan mental, sangat berkaitan dengan rasa aman (sense of security).
Ketika struktur keluarga hancur karena perceraian, fondasi rasa aman itu ikut retak.Remaja yang merasa ditelantarkan atau nggak diinginkan oleh orang tuanya, sering kali menyimpan kemarahan yang nggak terlampiaskan.
Karena kita nggak bisa marah kepada orang tua, kemarahan itu berbalik ke dalam diri sendiri (anger turned inward). Inilah yang secara perlahan berubah menjadi depresi.
Kita mulai percaya pada narasi buruk di kepala kita: "Kalau orang tuaku saja nggak menginginkanku, siapa lagi yang akan menginginkanku?"
Pikiran beracun inilah yang menjadi ciri depresi yang paling berbahaya, karena ia merusak harga diri (self-esteem) secara perlahan namun pasti.
Depresi ringan pada remaja sering kali dianggap sebagai "kenakalan" atau "moody" oleh orang dewasa.
Padahal, perilaku memberontak atau justru diam seribu bahasa adalah cara jiwa kita berteriak meminta tolong. Kehadiran figur pengganti atau komunitas yang mendukung, sangat krusial untuk menambal lubang trauma tersebut.
Langkah Pemulihan: Menambal Retakan dari Dalam
Keluar dari depresi ringan bukan berarti kamu harus langsung menjadi orang yang super ceria.
Langkah pertamanya adalah dengan penerimaan.
Aku belajar di panti asuhan, bahwa meskipun aku nggak bisa mengubah kenyataan. Benar bahwa aku ditinggalkan, aku bisa mengubah caraku memandang diriku sendiri.
Mulailah dengan rutinitas kecil yang bisa kamu kendalikan.
Saat aku depresi, merapikan tempat tidur di pagi hari adalah kemenangan terbesarku. Itu adalah cara kecil untuk berkata pada dunia bahwa aku masih punya kendali atas hidupku, sekecil apa pun itu.
Jangan memendam semuanya sendirian.
Mencari teman bicara atau menulis di jurnal bisa membantu mengeluarkan "racun" emosional dari pikiranmu.
Jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Jika kamu merasa lubang itu terlalu dalam, bantuan seperti konselor sekolah atau psikolog. Meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda keberanian yang luar biasa.
Terakhir, ingatlah bahwa luka masa lalumu nggak mendefinisikan masa depanmu.
Meskipun aku tumbuh besar di panti asuhan dengan hati yang retak, aku menyadari bahwa retakan itulah yang membiarkan cahaya masuk.
Kamu lebih kuat dari apa yang pernah kamu alami, dan rasa sedih ini, betapa pun beratnya, hanyalah satu bab dari buku panjang kehidupanmu.
Jika hari ini kamu merasa hampa, bicaralah pada dirimu sendiri dengan lembut.
Kamu sedang berjuang dalam pertempuran yang nggak terlihat oleh orang lain, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuatmu layak disebut seorang pemenang.
Baca opini serupa: Perbedaan Stres dan Gangguan Kecemasan? Ini Solusinya

Komentar
Posting Komentar