Cara Mengatasi Trauma Masa Kecil yang Membekas? Inilah yang Kamu Cari
Banyak dari kita yang membawa beban tak kasat mata sejak kecil, sebuah luka yang tidak berdarah. Namun terasa sangat nyeri setiap kali kita mencoba membangun hubungan dengan orang lain.
Kamu mungkin sering merasa takut ditinggalkan atau merasa tidak layak untuk dicintai. Namun tidak pernah tahu dari mana asal semua kecemasan itu. Kita sepakat bahwa masa kecil seharusnya menjadi tempat yang aman.
Namun bagi sebagian orang, masa itu justru menjadi awal dari sebuah lubang besar di hati.
Jika hari ini kamu masih sering merasa hampa karena kejadian di masa lalu, tulisan ini adalah pelukan hangat untuk anak kecil di dalam dirimu yang sedang menangis itu.
Aku berjanji akan membantumu memahami, mengapa luka lama itu masih terasa nyata hingga sekarang. Bagaimana cara pelan-pelan menyembuhkannya.
Mari kita bedah bagaimana cara mengatasi trauma masa kecil yang membekas. Belajar dari titik terpedih hidupku saat pintu rumah tertutup selamanya bagi sosok seorang Bapak.
Baca judul lain: Tanda-Tanda Mental Health Terganggu? Ini Wajib Diketahui
Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga kamu baik-baik saja ya? Mari kita lanjutkan.
Saat Bapak Pergi di Kala Ibu Sedang Tak Berdaya
Aku baru berusia enam tahun saat duniaku kehilangan pijakannya. Di saat anak-anak lain sedang asyik bermain, aku harus menyaksikan Ibuku terbaring lemah di tempat tidur, karena sakit yang berkepanjangan. Bukannya menjadi pelindung, Bapak justru memilih untuk pergi.
Aku masih ingat suara deru motor yang menjauh di sore hari itu. Ia meninggalkan aku yang ketakutan, dan Ibu yang sedang berjuang melawan maut.
Bapak pergi bukan karena ada tugas jauh, tapi karena dia tidak sanggup menanggung beban melihat Ibu yang sakit dan rumah yang tak lagi ceria.
Dia memilih melepaskan tanggung jawabnya tepat saat aku paling membutuhkannya. Sejak hari itu, setiap kali aku melihat pintu rumah. Aku selalu berharap dia kembali. Namun hari berganti tahun, harapan itu hanya berubah menjadi kemarahan dan rasa tidak berharga.
Perasaan "dibuang" itu tumbuh menjadi parasit dalam jiwaku. Aku tumbuh menjadi orang yang selalu berusaha menjadi sempurna, agar orang lain tidak meninggalkanku.
Setiap kali ada orang yang sedikit saja menjauh, aku langsung panik dan merasa dunia akan berakhir. Itulah manifestasi nyata dari trauma pengabaian.
Sebuah memori tentang punggung Bapak. Ia yang menjauh, yang terus menghantui setiap hubungan yang kucoba bangun saat dewasa.
Mengenali Luka Pengabaian (Abandonment Issues) dalam Hubungan Dewasa
Kenapa kejadian belasan tahun lalu masih bisa membuatmu menangis hari ini? Secara psikologis, trauma masa kecil seperti ditinggal orang tua bukan hanya sekadar ingatan, melainkan telah membentuk sirkuit di otakmu.
Ini yang disebut sebagai Developmental Trauma. Ketika sosok pelindung utama menghilang. Anak kecil di dalam dirimu menyimpulkan, bahwa dunia ini tidak aman dan dia sendiri adalah penyebab orang lain pergi.
Cara mengatasi trauma masa kecil yang membekas, dimulai dengan menyadari bagaimana luka itu muncul dalam perilaku harianmu saat ini.
Apakah kamu sering merasa insecure yang berlebihan pada pasangan? Atau mungkin kamu justru menjadi orang yang sangat mandiri secara ekstrem (hyper-independence).
Karena kamu takut bergantung pada orang lain? Ini adalah cara jiwamu melindungi diri agar tidak pernah merasakan sakitnya ditinggalkan seperti saat kecil dulu.
Dalam psikologi, ini sering dikaitkan dengan Insecure Attachment Style. Pengalaman pahitku dengan Bapak membuatku sulit percaya pada kata "janji".
Aku selalu menunggu kapan orang di depanku akan pergi. Sehingga aku tidak pernah bisa benar-benar hadir dalam sebuah hubungan.
Memahami bahwa ketakutanmu hari ini adalah "suara" dari luka lama adalah kunci utama untuk mulai memisahkan masa lalu dari masa kini.
Dampak Trauma terhadap Kepercayaan Diri dan Rasa Layak
Salah satu efek paling merusak dari trauma masa kecil adalah hancurnya rasa berharga dalam diri.
Ketika Bapak pergi saat Ibu sakit, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku berpikir, "Andai aku jadi anak yang lebih pintar atau penurut, mungkin Bapak tidak akan pergi."
Pikiran ini sangat umum pada anak-anak korban trauma. Karena secara kognitif mereka belum bisa memahami bahwa perilaku orang dewasa, adalah tanggung jawab orang dewasa itu sendiri.
Trauma ini menciptakan "suara kritis" di dalam kepala yang selalu membisikkan bahwa kita tidak cukup baik. Kita sering mencari validasi dari luar untuk menutupi rasa hampa di dalam.
Kita menjadi people pleaser, selalu mendahulukan kepentingan orang lain demi memastikan mereka tetap tinggal. Namun, ironisnya, semakin kita memaksakan diri untuk diterima. Semakin kita merasa asing dengan diri sendiri.
Proses penyembuhan membutuhkan keberanian untuk mengakui bahwa apa yang terjadi padamu dulu, adalah sebuah ketidakadilan.
Kamu tidak layak ditinggalkan, dan kamu tidak bertanggung jawab atas keputusan orang tuamu untuk pergi. Menghapus label "anak yang dibuang" adalah perjuangan yang melelahkan.
Namun, itu adalah satu-satunya jalan agar kamu bisa mulai mencintai dirimu dengan cara yang tulus. Bukan cara yang penuh ketakutan.
Langkah Inner Child Healing: Menjadi Orang Tua bagi Diri Sendiri
Lalu, bagaimana kita bisa benar-benar sembuh?
Langkah pertama yang kulakukan adalah melakukan teknik Inner Child Healing
Aku mencoba membayangkan diriku yang berusia enam tahun, yang sedang berdiri di depan pintu menunggu Bapak kembali.
Aku menghampirinya, memeluknya, dan berkata: "Bapak memang pergi, tapi aku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
Ini terdengar sederhana, namun secara emosional, ini sangat kuat untuk menenangkan saraf yang selalu waspada.
Kedua, mulailah belajar menetapkan batasan (boundaries)
Jangan biarkan rasa takut ditinggalkan membuatmu menerima perlakuan buruk dari orang lain. Sering kali, karena trauma masa kecil, kita "mengundang" orang-orang yang mirip dengan penyebab trauma kita (pola repetition compulsion).
Dengan memiliki batasan yang sehat. Kamu sedang menunjukkan pada dirimu sendiri bahwa kamu berharga. Layak mendapatkan rasa hormat.
Terakhir, carilah bantuan profesional jika lukanya terlalu dalam untuk dibalut sendiri
Terapi seperti CBT (Cognitive Behavioral Therapy) atau EMDR dapat membantu memproses memori trauma tersebut. Sehingga tidak lagi memiliki kendali atas emosimu.
Kamu tidak harus kuat sendirian. Mengakui bahwa kamu terluka adalah tanda, bukan kelemahan. Ingatlah, kamu mungkin tidak bisa mengubah awal ceritamu, tapi kamu punya kuasa penuh untuk menulis akhir ceritanya.
Trauma masa kecil mungkin telah meninggalkan bekas luka yang permanen. Namun luka itu tidak harus menjadi penjara.
Baca judul lain: Kenapa Aku Takut Berinteraksi Dengan Orang Lain? Ini Cara Mengatasinya
Kamu berhak untuk dicintai secara utuh, tanpa harus merasa takut setiap kali seseorang berkata "sampai jumpa". Di laman Cerita Manusia ini, kita belajar bahwa meski kita pernah ditinggalkan, kita selalu bisa menemukan jalan pulang menuju diri kita sendiri.

Komentar
Posting Komentar