Kenapa Aku Merasa tertinggal dan gagal di usia 25 tahun? Inilah Quarter Life Crisis
Aku lahir di masa ketika pilihan hidup datang jauh lebih cepat daripada kesiapan batin untuk menanggungnya. Di usia yang belum genap tiga puluh, beban pertanyaan sudah menumpuk di pundak, serupa tumpukan draf tugas akhir yang tak kunjung mendapat restu dosen pembimbing.
Salah jurusan, salah jalan, salah memilih pasangan, hingga salah menaruh harapan. Anehnya, semua kegagalan itu terasa sangat personal.
Seolah-olah seluruh dunia sedang berlari kencang dalam lintasan yang benar, sementara aku tertinggal di garis start sendirian, tanpa ada satu pun orang yang menoleh untuk sekadar bertanya, "Kamu baik-baik saja?"
Belakangan, fenomena kebingungan massal ini diberi nama yang cukup rapi, akademis, dan terdengar sangat ilmiah: Quarter Life Crisis. Seolah-olah dengan memberi label tersebut, kekacauan batin yang kita alami bisa ditata rapi di dalam laci kategori.
Padahal, jika kita mengupas lapisannya, isinya sangatlah sederhana. Kita adalah sekumpulan manusia muda yang kehilangan arah kompas, namun terlalu gengsi untuk mengakui bahwa kita sedang tersesat.
Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Semoga harimu menyenangkan dan kabarmu baik selalu ya. Mari kita lanjutkan.
Memar di Balik Label Strawberry
Kami sering dijuluki sebagai "Generasi Strawberry". Sebuah julukan yang terdengar manis namun sebenarnya adalah sebuah kritik tajam. Katanya, kami adalah generasi yang kritis, kreatif, dan penuh terobosan.
Namun di sisi lain kami sangat rapuh dan mudah memar. Sedikit ditekan oleh realita, kami langsung lembek. Aku tidak sepenuhnya menolak label itu. Ada bagian dari diriku yang mengakui kebenarannya.
Kami lahir di tengah keluarga yang secara ekonomi relatif lebih sejahtera dibanding generasi orang tua kami.
Kami tumbuh dengan kemudahan teknologi; ponsel pintar selalu ada di genggaman, dan akses internet atau wifi seolah menjadi kebutuhan primer setelah oksigen. Namun, justru di balik kemudahan itulah ironinya bermula.
Terlalu banyak pilihan seringkali justru menciptakan kelumpuhan dalam mengambil keputusan (analysis paralysis).
Kami lupa bahwa hidup tidak selalu menyediakan buku menu lengkap dengan gambar yang menggugah selera. Kadang hidup hanya menyajikan sepiring nasi putih dan kesabaran yang hambar, tanpa ada pilihan lauk sama sekali.
Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Menakutkan
Krisis ini biasanya datang tanpa mengetuk pintu. Ia menghantam dengan pertanyaan-pertanyaan klise namun berdaya rusak tinggi:
"Aku ini sebenarnya mau jadi apa?" atau "Apakah ini jalan yang benar-benar aku inginkan?"
Lalu disusul dengan doa-doa yang bernada setengah protes di sepertiga malam.
"Tuhan, kapan aku benar-benar 'wisuda' dari beban mental ini?" atau pertanyaan yang lebih sunyi dan menyakitkan, "Kenapa semua orang di layar ponselku terlihat baik-baik saja, sementara aku berantakan?"
Di titik ini, media sosial bertransformasi menjadi ruang sidang yang kejam. Setiap unggahan foto atau story orang lain menjadi dakwaan atas ketidakmampuan hidupku sendiri.
Yang satu sudah menduduki kursi manajer, yang lain baru saja memamerkan cincin pertunangan, ada yang sedang mengejar gelar Master di luar negeri, atau sekadar pamer paspor di bandara menuju destinasi impian.
Sedangkan aku? Aku hanya duduk di sudut kamar, sibuk menunda keputusan-keputusan besar sambil belajar tampak tenang di depan kamera.
Di situlah Quarter Life Crisis bekerja secara gerilya: ia memaksamu membandingkan bab pertama hidupmu dengan bab kedua puluh hidup orang lain, meragukan setiap langkah yang sudah diambil, lalu berakhir dengan menyalahkan diri sendiri secara brutal.
Jebakan "Healing" dan Diagnosis Mandiri
Biasanya, jalan pintas yang aku dan rekan sebayaku ambil adalah sesuatu yang tampak menenangkan namun seringkali semu: healing, self-reward, atau "menghilang sejenak" dengan dalih mencintai diri sendiri.
Membeli kopi mahal setiap hari atau liburan singkat yang menguras tabungan dianggap sebagai obat. Tidak sepenuhnya salah, memang. Namun sering kali, itu semua hanyalah jeda, bukan sebuah jawaban.
Masalahnya tetap menunggu di depan pintu rumah, sabar dan tersusun rapi, serupa tagihan wifi bulanan yang tidak bisa kita blokir hanya dengan berpura-pura tidak melihatnya.
Hal yang lebih licik dari fenomena ini adalah kebiasaan self-diagnose. Sedikit merasa lelah setelah bekerja, kita menyebutnya depresi.
Sedikit merasa sedih karena ekspektasi tak terpenuhi, kita langsung mengaku trauma. Kita terlalu cepat menyematkan label psikologis yang berat, padahal mungkin kita belum benar-benar memahami isinya.
Bukan berarti penderitaan itu palsu. Tapi mungkin, kita hanya lupa bahwa rasa takut, ragu, cemas, dan bingung adalah bagian sah dari proses menjadi manusia. Itu adalah sinyal kemanusiaan, bukan tanda kegagalan fungsi atau cacat mental.
Belajar Menjadi Akar yang Menembus Tanah
Dalam satu fase krisis yang paling dalam, aku merasa terjebak. Bukan karena hidupku buruk secara objektif, tapi karena aku kehilangan titik koordinat untuk melangkah.
Lalu datang fase menghindar, fase di mana aku memilih untuk absen dari diskusi, menunda segala keputusan krusial, dan berharap waktu akan secara ajaib membereskan segalanya.
Namun aku belajar satu hal penting: waktu tidak pernah menyelesaikan apa pun. Waktu hanya memberikan kita ruang dan jarak. Selebihnya, tangan kitalah yang harus turun tangan membereskan puing-puing kekacauan tersebut.
Perlahan, aku mulai memahami bahwa krisis ini bukan musuh yang harus dibasmi. Ia adalah penanda, sebuah alarm bahwa ada pertumbuhan yang tertunda dan ada level kedewasaan yang harus segera kita ambil.
Orang-orang tua zaman dulu sering berkata bahwa hidup tidak pernah menawarkan eskalator menuju puncak. Selalu ada lereng yang curam, napas yang tersengal, dan keinginan yang kuat untuk berhenti di tengah jalan.
Aku teringat akan filosofi batu yang bisa berlubang oleh tetesan air. Bukan karena airnya keras, tapi karena ia setia dan konsisten. Aku juga teringat kisah-kisah orang besar yang dulunya dianggap gila hanya karena melakukan hal yang tak lazim di masanya, namun kemudian dipuja setelah berhasil.
Dunia memang seringkali salah dalam menilai sebuah proses yang berdarah-darah, namun ia akan selalu berebut tempat untuk ikut merayakan hasil akhir.
Dari Ketakutan Menjadi Kebangkitan
Mungkin, inti dari Quarter Life Crisis bukanlah tentang menentukan siapa yang paling cepat sukses atau siapa yang paling lambat gagal. Ini adalah tentang pendewasaan.
Tentang keberanian untuk duduk melingkar dan berdialog dengan ketakutan diri sendiri, bukan terus-menerus lari dan bersembunyi darinya.
Ini tentang menerima bahwa hidup tidak selalu harus memiliki resolusi yang jelas saat ini juga, dan ketidakpastian itu tidak membuat kita menjadi produk yang rusak.
Pertanyaanku pun kini mulai berganti warna.
Bukan lagi, "Kenapa aku harus mengalami ini?"
Melainkan, "Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan dengan sisa energi yang kumiliki hari ini?"
Menjadi Generasi Strawberry tidak harus berarti kita rapuh selamanya. Stroberi memang buah yang mudah memar, tapi ia juga adalah tumbuhan yang mampu menghasilkan buah yang manis jika akarnya mau berjuang menembus tanah yang keras dan gelap.
Dan mungkin, krisis di seperempat usia ini bukanlah kutukan, melainkan sebuah inisiasi. Sebuah fase transisi yang memang harus dilalui untuk membentuk karakter yang lebih tangguh.
Memutuskan untuk terus menunda hanya akan membuat kita seperti duduk di atas kursi goyang. Kita merasa bergerak, kita merasa sibuk bergoyang ke depan dan belakang, namun sebenarnya kita tetap diam di tempat yang sama.
Pendewasaan tidak pernah terjadi secara instan atau dalam semalam. Ia berlangsung pelan, kadang sangat menyakitkan, dan seringkali terasa begitu sepi.
Tapi justru di sanalah kehidupan dunia nyata sedang bekerja membentuk kita. Melalui tulisan ini, aku memutuskan untuk tidak lagi dikendalikan oleh rasa takut. Aku memilih filosofi baru: FEAR bukan lagi Fear (takut), melainkan Face Everything And Rise. Hadapi segalanya, dan bangkitlah. Tetap yakin dan berdoa, Allah is everything.

Komentar
Posting Komentar