Cara Mengontrol Emosi Agar Tidak Meledak? Tips Paling Dicari

Gambar ibu memeluk anak yang sedang bersedih sebagai bentuk dukungan emosional dan pembentukan bonding keluarga yang sehat.

​Pernahkah kamu merasa menjadi ibu paling buruk di dunia? Karena kehilangan kendali dan membentak anakmu, hanya karena hal sepele? Kita sering kali bangun dengan niat menjadi ibu yang sabar. Namun saat sore tiba dan rumah berantakan, energi kita habis dan amarah meledak begitu saja. 

Kita sepakat, rasa bersalah setelah memarahi anak adalah beban batin. Seuatu yang sangat menyesakkan dada bagi setiap orang tua.

​Jika hari ini kamu merasa gagal, karena sering mengamuk di depan si kecil. Tulisan ini adalah pelukan hangat yang ingin membisikkan, bahwa kamu tidak sendirian. 

Kita akan bersama-sama memahami, apa yang sebenarnya terjadi di balik ledakan emosi itu? Agar kamu bisa kembali memeluk anakmu dengan tenang. 

Mari kita bedah alasan psikologis, kenapa ibu mudah marah pada anak? Belajar dari kerapuhanku, saat menghadapi kenakalan anakku yang berusia 7 tahun.

Hi, sahabat Cermia. Bagaimana kabarmu? Apakah kamu sehat? Semoga harimu menyenangkan dan bahagia selalu ya, aamin.

​Saat Suara Kecil Itu Memancing Badai di Dalam Dadaku

​Anakku kini berusia 7 tahun, usia di mana energinya sedang meluap-luap. Anak dengan rasa ingin tahunya, sering kali berwujud sebagai "kenakalan" di rumah. 

Ada hari-hari di mana aku merasa sangat mencintainya. Namun ada momen-momen gelap, di mana aku merasa seperti bom waktu. Setiap kali dia menumpahkan susu atau mengabaikan instruksiku untuk merapikan mainan. Aku merasa ada sesuatu yang mendidih di dalam kepalaku.

​Aku ingat satu sore yang sangat melelahkan. Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan rumah yang tak ada habisnya. Dia mulai berteriak-teriak sambil berlarian. Tanpa sadar, aku mengamuk. 

Aku memarahinya dengan suara yang begitu keras, hingga wajahnya memucat dan dia terdiam ketakutan. Saat amarah itu reda, yang tersisa hanyalah pemandangan anakku yang menangis sesenggukan di pojok ruangan.

​Melihat tubuh mungilnya bergetar karena takut padaku, hatiku hancur berkeping-keping. Aku masuk ke kamar mandi, mengunci pintu, dan menangis sejadi-jadinya. 

Aku sedih, kecewa pada diriku sendiri, dan bertanya-tanya: "Kenapa aku menjadi monster seperti ini? Bukankah aku sangat menyayanginya?". Penyesalan itu terasa jauh lebih pedih, daripada rasa lelah yang kurasakan sebelumnya.

​Mengenali "Mom Rage" dan Penumpukan Beban Emosional

​Apa yang aku alami, dan mungkin kamu alami juga, sering disebut dalam dunia psikologi sebagai Mom Rage. Ini bukan sekadar marah biasa, melainkan ledakan emosi yang muncul karena akumulasi stres, kurang tidur, dan beban mental (mental load) yang tidak terbagi. 

Kenapa ibu mudah marah pada anak? Sering kali karena anak adalah target yang paling "dekat" dan "aman". Dimana saat sistem saraf kita sudah mencapai batas maksimalnya.

​Secara biologis, ketika seorang ibu terus-menerus terpapar stimulasi suara (teriakan anak) dan fisik (rumah berantakan). Otak akan masuk ke mode sensory overload. 

Dalam kondisi ini, amigdala di otak kita mengirimkan sinyal bahaya, membuat kita merespons kenakalan anak seolah-olah itu adalah ancaman besar. Inilah sebabnya mengapa hal-hal kecil seperti tumpahan air bisa memicu ledakan amarah yang tidak proporsional.

​Selain itu, kita harus jujur bahwa tuntutan sosial untuk menjadi "ibu sempurna", menciptakan tekanan batin yang luar biasa. Kita merasa harus bisa melakukan semuanya sendiri tanpa mengeluh. 

Saat kita gagal memenuhi standar tersebut, rasa frustrasi itu keluar dalam bentuk kemarahan kepada anak. Jadi, marahnya kamu bukanlah tanda bahwa kamu jahat. Namun, tanda bahwa kamu sedang butuh bantuan dan istirahat yang nyata.

​Luka Pengasuhan Masa Lalu yang Muncul Kembali

​Satu hal yang paling menyakitkan untuk diakui, ketika kita menyadari bahwa cara kita marah pada anak, ternyata mirip dengan cara orang tua kita dulu memarahi kita. Tanpa sadar, kita membawa trauma masa kecil atau pola asuh yang keras ke dalam hubungan kita dengan anak sendiri. 

Ini yang disebut sebagai Intergenerational Trauma, trauma antargenerasi yang belum tuntas diproses. ​Setiap kali anakku yang berusia 7 tahun membantah, ada bagian dari masa kecilku yang merasa terancam. Mungkin dulu aku tidak diizinkan bicara atau harus selalu patuh tanpa syarat. 

Ketika anakku melakukan hal yang dulu dilarang keras bagiku, luka lama itu berdenyut dan memicu reaksi emosional yang hebat. Kita memarahi anak bukan karena perbuatannya sekarang, tapi karena memori rasa sakit yang terpicu di masa lalu.

​Memahami kaitan antara kesehatan mental ibu dan perilaku anak adalah kunci untuk memutus rantai ini. Anak-anak di usia sekolah dasar sedang belajar meregulasi emosi, dan mereka membutuhkan cermin yang tenang. 

Jika kita sendiri belum berdamai dengan luka masa lalu, kita akan terus melihat kenakalan anak sebagai serangan pribadi. Menyadari bahwa "anakku bukan musuhku" adalah langkah besar untuk meredakan badai amarah di rumah.

​Langkah Memulihkan Diri dan Memperbaiki Hubungan dengan Anak

​Lalu, bagaimana cara kita berhenti mengamuk dan mulai mengasuh dengan cinta lagi? Atau berhenti untuk meluapkan emosi yang meledak? 

Langkah pertama yang kulakukan,  berhenti sejenak. 

Saat aku merasa amarah mulai naik ke leher, aku akan menjauh dari anak selama satu menit, menarik napas dalam, dan berkata pada diriku sendiri: 

"Dia hanya anak-anak yang sedang belajar, dan aku adalah orang dewasa yang aman baginya." Menenangkan sistem saraf sebelum bicara, kunci agar tidak terjadi penyesalan.

​Kedua, mulailah berani meminta maaf pada anak. 

Setelah aku meledak, aku akan menghampiri anakku, berlutut agar sejajar dengannya, dan berkata.

"Maafin Ibu ya, tadi Ibu bicaranya keras sekali. Ibu sedang lelah, tapi itu bukan salah kamu. Ibu akan belajar lebih sabar lagi." 

Meminta maaf tidak akan menjatuhkan otoritasmu sebagai ibu. Justru itu mengajarkan anak tentang, kejujuran emosional dan tanggung jawab.

​Terakhir, jangan abaikan perawatan diri atau self-care yang bermakna. 

Ibu yang bahagia dan terpenuhi kebutuhannya akan memiliki "tangki kesabaran" yang lebih luas. Carilah dukungan, baik itu dari pasangan, sahabat, atau profesional seperti psikolog jika kamu merasa emosimu sudah tidak terkendali. 

Mencintai anak, dimulai dengan mencintai dan memaafkan dirimu sendiri atas ketidaksempurnaanmu hari ini.

​Menjadi ibu adalah perjalanan belajar yang paling panjang. Seorang ibu melakukan kesalahan adalah bagian dari proses itu. Jangan biarkan rasa sedih karena pernah memarahi anak membuatmu menyerah untuk menjadi lebih baik esok hari. 

Di sini Cerita Manusia ini, kita belajar bahwa di balik amarah seorang ibu, ada cinta yang sedang kelelahan. Mari kita peluk lagi anak-anak kita, dan yang paling penting, peluklah dirimu sendiri dengan penuh pengampunan.


Komentar